“Bersantap Melayang” di Ketinggian Ratusan Kaki

“Bersantap Melayang” di Ketinggian Ratusan Kaki

Nur AK
19 Des 2017
Dibaca : 680x
Di Indonesia, pesona pemandangan yang dinikmati dari tempat tinggi tersedia di Jakarta.

Tahun 1932, waktu itu belum ada gedung yang menjulang tinggi di kawasan Rockefeller Center. Hanya ada rangka-rangka besi dan crane yang menggantung di ketinggian 840 kaki.

Di suatu siang, 11 orang pekerja bangunan memutuskan untuk makan bersama. Mereka duduk di salah satu bongkahan besi yang terletak di level 69 pembangunan Gedung GE, gedung ternama di kawasan Rockefeller Center.

Selain para pekerja bangunan, ada tiga orang fotografer yang ada di sana yaitu Charles C. Ebbets, Thomas Kelley, dan William Leftwich. Mereka hendak melakukan pengambilan gambar sebagai materi promosi untuk kompleks gedung pencakar langit di New York. Tak berselang lama kemudian, majalah Time menobatkan foto berjudul Lunch Atop a Skycarper sebagai salah satu foto menarik dalam 100 foto pilihan. 

Tayangan dokumenter tentang potret tersebut menyebutkan bahwa ada kebersamaan tersirat di dalam gambar yang memuat orang-orang dari berbagai latar belakang. Selain berasal dari berbagai macam etnis, sebagian dari mereka adalah kaum imigran. Ekspresi tawa menjadi penanda rasa relaks dan tenang, meski tempat yang mereka duduki bisa menimbulkan bahaya bagi diri mereka sendiri. Tidak ada pengaman untuk menyelamatkan diri jika mereka terjatuh.

Namun sekarang ini, sensasi bersantap melayang di ketinggian ratusan kaki sudah bisa dirasakan. Tentunya dilengkapi dengan pengaman lengkap. Meski demikian, ternyata pengaman tersebut tidak bisa membebaskan setiap orang dari rasa takut.

Pendiri Modern Pantry Restaurant, Hansen, di Clekenwell, pernah mencoba pengalaman bersantap di atas crane di London dalam acara bertajuk London In The Sky. Ia duduk di kursi makan yang dilengkapi sabuk pengaman ekstra. Kursi makan nampak seperti kursi dalam wahana pemacu adrenalin di sebuah taman bermain semacam Dufan. Tak berapa lama, ia bersama sejumlah orang yang mengelilingi meja makan diangkat menggunakan crane menuju ketinggian 100 kaki, setara dengan 30,48 meter. Di ketinggian itu, makanan mulai disajikan.

“Saya tidak pernah berada di ketinggian seperti ini sebelumnya dan tidak yakin mengapa saya rela melakukan hal ini,” jelasnya kepada The Telegraph. 

London salah satu kota tujuan acara Dinner In The Sky, yang digagas event organizer milik pengusaha kuliner dan taman bermain. Di tahun 2006, mereka sepakat membuat sesi “bersantap melayang”. Acara tersebut dimulai di Belgia dengan mengajak 22 pemilik restoran untuk menyediakan menu pada acara ini. Konseptor acara mendesain meja makan yang bisa memuat 22 kursi. Tersedia pula ruang bagi koki kepala, sommelier, dan pelayan untuk melaksanakan tugasnya di atas langit.

Peminat restoran melayang itu terus meningkat. Sampai saat ini, acara Dinner in The Sky telah diselenggarakan di 45 negara yang meliputi beberapa negara di Australia, Canada, Jepang, India, Dubai, Afrika Selatan, Brazil, Colimbia, Meksiko, Tiongkok. Kemasan acara yang dihidangkan pun berbagai macam mulai dari jamuan makan tematik hingga pernikahan.

“Kami bisa merancang konsep kreatif seperti Beach bar In The Sky, Opera in The Sky dengan mengundang penyanyi opera, dan Internet Cafe in The Sky. Langit selalu membuat manusia bersemangat. Kini masyarakat cenderung menginginkan sebuah pengalaman yang tak biasa. Masing-masing dari mereka punya keinginan yang berbeda dari sekelilingnya,” demikian yang tertulis pada situs Dinner In The Sky. 

Di Indonesia, pesona pemandangan yang dinikmati dari tempat tinggi tersedia di Jakarta. Di kota ini memang belum pernah diadakan jamuan makan se-ekstrem Dinner In The Sky. Namun obsesi terhadap ketinggian tersirat melalui didirikannya sejumlah restoran di lantai teratas gedung-gedung pencakar langit ibukota.

Beberapa bulan terakhir, lantai paling atas Gamma Tower, gedung tertinggi di Indonesia, selalu memancarkan cahaya warna-warni setiap malamnya. Sekali waktu, ada tulisan berjalan di lampu tersebut yang merangkai kata Henshin. Tempat itu ialah restoran yang menjadi bagian dari The Westin Hotel Jakarta. Henshin terdiri dari bar di lantai 67, restoran fine dining di lantai 68, dan ruang privat di lantai 69. Masakan di sana dibuat oleh Hajime Kasuga, koki asal Jepang yang lama menghabiskan waktu di Peru. Menu restoran tersebut ialah percampuran masakan Jepang dan Peru.

Sejak awal dibuka hingga sekarang, Henshin beberapa kali menjadi tempat peluncuran koleksi terbaru lini kecantikan dan aksesori berkelas internasional seperti Gucci dan L’Occitane. Sebelum Henshin, euforia bersantap di gedung tertinggi terjadi lantaran dibukanya Skye, restoran dan bar yang terletak di lantai 56 Menara BCA, Thamrin, Jakarta Pusat pada tahun 2012. 

“Skye menjadi salah satu destinasi wisata para wisatawan yang datang ke Jakarta. Kami melihat mereka menikmati pemandangan kota Jakarta 180 derajat. Tamu kami sebagian besar berasal dari kalangan pebisnis, sosialita, dan ekspatriat. Mereka kerap datang di jam 7 malam atau jam 9 malam untuk menikmati waktu di Lounge atau menikmati pemandangan,” ungkap Ryan, humas Skye. 

“Buat saya, makan di high rise building ini bukan sebuah tren," tukas Astrid Suryatenggara, kepala pemasaran Altitude Grill, American Steak House, yang berlokasi di lantai 46 The Plaza, Thamrin.

"Puluhan tahun lalu sudah ada restoran yang dibangun di gedung tinggi. Mungkin setiap gedung tinggi pasti ada food and beverages area. Demikian pula yang terjadi di New York, Italia, Singapura, dan Hong Kong," imbuhnya.

“Lokasi ini sangat premium. Kita bisa langsung melihat bundaran HI. Tempat ini ramai di malam hari. Orang suka menikmati cahaya lampu ibukota dari atas,” ujarnya.

Restoran tersebut baru diresmikan sekitar tiga minggu lalu. Kini reservasi terus berdatangan untuk acara malam tahun baru.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved