5 Hal untuk Bantu Anak Berhenti Menggigit Kukunya

5 Hal untuk Bantu Anak Berhenti Menggigit Kukunya

Nur AK
22 Feb 2018
Dibaca : 238x
Menggigit kuku adalah salah satu bentuk “nervous habit”.

Menggigit kuku merupakan salah satu bentuk “nervous habit” atau kebiasaan untuk menghilangkan rasa gugup, ingin tahu, bosan, tegang, gelisah,atau menghilangkan stress. Kebiasaan tersebut meliputi kebiasaan seperti mengisap jempol, mengupil, memelintir rambut, menarik-narik atau menggemeretakkan gigi, yang dapat berlanjut sampai dewasa.

Pada masa anak-anak, kebiasaan tersebut bisa saja dilakukan saat belajar hal-hal baru di sekolah, atau malu saat di acara ramai dan di tempat bermain anak-anak.

Namun, sering kali di luar kegiatan sekolah anak-anak akan berhenti dengan sendirinya. Namun, kebiasaan ini akan terus berlanjut atau tidak bisa ditahan.

Dikutip dari hellosehat.com, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu anak Anda berhenti menggigit kukunya:

1. Atasi kecemasan anak Anda

Penting untuk mengetahui apa penyebab kebiasaan tersebut apabila anak Anda memiliki stres terhadap sesuatu. Jika Anda mengetahui penyebab kecemasan pada anak Anda, seperti pindah rumah, perceraian orang tua, atau kamar baru, buatlah anak Anda merasa nyaman untuk menceritakannya.

2. Jangan mengomeli atau menghukum anak Anda

Seperti kebiasaan gugup lainnya, menggigit kuku biasanya dilakukan secara tidak sadar. Jika anak Anda tidak menyadari kebiasaan menggigit kukunya, mengomeli dan memberi hukuman bukanlah tindakan yang efektif.

Orang dewasa pun mengalami kesulitan untuk menghilangkan kebiasaan buruk, dan beberapa orangtua juga menyadari mereka sering melakukan kebiasaan-kebiasaan seperti memelintir rambut saat sedang menelepon.

Selama anak Anda tidak membahayakan dirinya dan tidak terlihat stres, hal yang dapat Anda lakukan adalah memotong kukunya dengan rapi untuk mengurangi keinginan untuk menggigit kuku, menjaga tangan anak agar selalu bersih, dan mencoba mengalihkan fokus anak Anda.

Jika Anda menekan anak untuk berhenti, Anda hanya akan menambah stres dan kebiasaan menggigit kuku akan memburuk. Memberikan perlakuan tertentu sebelum anak Anda siap untuk berhenti, seperti mengoleskan cairan pahit pada kuku anak, akan membuatnya merasa dihukum. Semakin sedikit gangguan yang dihadapi terkait kebiasaannya, semakin mudah untuk anak menghentikan kebiasaannya saat ia sudah siap.

3. Bantu anak saat ia ingin berhenti

Jika anak Anda ditertawakan teman-temannya karena kuku yang digigit, anak Anda mungkin sudah ingin berhenti dan ia membutuhkan bantuan Anda. Buat anak Anda menceritakan ejekan dari teman-temannya, dan bagaimana perasaannya. Yakinkan anak Anda bahwa Anda tetap menyayanginya bagaimanapun juga. Kemudian mulailah beri solusi.

4. Bicarakan tentang bagaimana menghentikan kebiasaan menggigit kuku

Diskusikan dengan anak Anda tentang kebiasaannya dan bagaimana menghentikan kebiasaan tersebut. 

5. Buat anak Anda menyadari kebiasaannya

Buat persetujuan dengan anak Anda untuk mengingatkan saat ia tidak sadar menggigit kukunya, seperti dengan cara menyentuh lengannya atau menyebutkan kata sandi tertentu. Berikan aktivitas pengganti seperti mainan atau bola lunak elastis yang bisa dia main-mainkan.

Beberapa anak dapat menggunakan metode pengingat jika ia melakukan kebiasaannya kembali. Hal ini hanya efektif jika anak Anda ingin mencobanya, tapi jika tidak, ia akan merasa dihukum. Anda dapat menempelkan plester atau stiker warna-warni pada kukunya, atau kuteks anak-anak untuk membantu mereka berhenti menggigit kuku. Periksakan dengan apoteker produk apa yang aman untuk anak Anda.

Anak-anak memiliki preferensi yang berbeda-beda, tapi secara umum, semakin anak Anda merasa dilibatkan sebagai partner dalam usaha menghentikan kebiasaan ini, semakin mudah anak Anda untuk berhasil.

Jika lima upaya di atas masih belum berhasil, konsultasikan pada dokter jika anak Anda menggigit kuku dengan berlebihan hingga tangannya luka atau berdarah, maupun jika anak menggigit kuku sambil melakukan perilaku cemas seperti menggaruk kulit, menarik rambut, atau bulu mata, atau pola tidur menjadi tidak teratur.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved