Tutup Iklan
Tryout.id
  
"Bakteri Pemakan Daging" yang Masih Membingungkan di Jepang

"Bakteri Pemakan Daging" yang Masih Membingungkan di Jepang

Nur AK
26 Des 2017
Dibaca : 385x
Sebanyak 525 pasien dengan streptococcal toxic shock syndrome (STSS) telah tercatat, setidaknya hingga 10 Desember 2017 lalu.

Ratusan orang Jepang terinfeksi "bakteri pemakan daging" sepanjang tahun 2017. Sejauh ini, wabah penyakit ini masih cukup membingungkan padahal berpotensi mematikan.

Sebanyak 525 pasien dengan streptococcal toxic shock syndrome (STSS) telah tercatat, setidaknya hingga 10 Desember 2017 lalu. Sebagaimana dilaporkan Independent, angka yang merupakan rekor tertinggi sejak 1999 berdasarkan data dari National Institute of Infectious Diseases (NIID).

Jumlah pasien dengan STSS memangg meningkat dari tahun ke tahun, namun penyebab kenaikan itu masih belum diketahui. Sebagai catatan, jumlah pasien dengan STSS pada 2013 lalu baru sebanyak 203 orang.

STSS yang tercatat berakibat fatal pada hampir satu di antara tiga kasusnya, disebut menghancurkan jaringan (tubuh) dan dapat menyebabkan kematian dalam hitungan hari. Infeksi ini sendiri kadang juga disebut sebagai Sindrom Seperti Kejutan Beracun (TSLS). Penyakit ini pada umumnya disebabkan oleh bakteri bernama Streptococcus pyogenes, atau biasa dikenal dengan streptococcus grup A. Sementara, selain streptococcus grup A, ada pula beberapa bakteri lain seperti streptococcus grup G yang dianggap menjadi penyebab varietas berbahaya dan mengancam jiwa dari penyakit ini.

NIID bahkan telah memperingatkan bahwa penderita bisa meninggal dalam hitungan jam. Pendorongnya bisa karena gagal fungsi sejumlah organ dalam, maupun gejala lain sejak tubuh memasuki periode kritis dalam waktu singkat.

Kendati diyakini bahwa STSS berawal dari cedera pasien yang kemudian terkena infeksi, ada banyak pula kasus di mana jalur infeksinya masih misterius.

"Diketahui bahwa (saat ini) ada makin banyak pasien STSS yang terinfeksi bakteri selain streptococcus grup A," jelas Ken Kikuchi, profesor bidang penyakit menular di Tokyo Women’s Medical University, seperti ditulis Asahi Shimbun.

Zaman sekarang, orang harus hati-hati dalam pola hidupnya. Mungkin karena olahan makanan yang beraneka macam, menyebabkan penyakit yang menjangkitpun ikut beragam.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved
Tutup Iklan
hijab