tas rajut

Bermula dari Hobi, Wanita Jebolan S1 Bahasa Inggris Dirikan Bisnis Tas Rajut

Nur AK
16 Jan 2018
Dibaca : 964x
Tak hanya tas rajut, dompet, aksesori, dan pernak-pernik wanita lainnya, semua itu merupakan hasil karya rajutan tangan Anggun.

Lewat hobinya yang produktif, Anggun Saraswati Gahari Putri, 27, mendirikan usaha sekaligus menjadi manajer toko pembuatan tas rajut miliknya. Kini hobi merajutnya tersebut mendatangkan pemasukan besar setelah sejumlah toko di berbagai kota besar di Indonesia meliriknya.

Ketika ditemui di Jalan Basuki Rahmad Gang Sendangharjo 1/28A, Anggun Saraswati Gahari Putri terlihat sibuk dengan jarum rajut di kedua tangannya. Tak jauh dari tempatnya duduk, sejumlah tas wanita berwarna mencolok berjejer rapi. Selain tas, terlihat pula karya rajut lain. Antara lain dompet, aksesori, dan pernak-pernik wanita lainnya. Semua itu merupakan hasil karya rajutan tangan Anggun.

Namun, merajut bukanlah pekerjaan utama Anggun. Sehari-harinya, wanita jebolan S1 pendidikan bahasa Inggris Unirow Tuban tersebut bekerja sebagai manajer sebuah toko perangkat komputer di Tuban. Merajut hanyalah hobi yang ditelateni saat duduk di bangku SMKN 2 Tuban.

Dituturkannya, awal mulanya ia hanya mengoleksi tas-tas unik. Kemudian muncullah aktivitas merajut yang dijalaninya sepulang kerja dan liburan, karena banyak sekali pesanan. Saat ini, ia membuat tas rajut untuk dikirimkannya ke Kalimantan dan Bali.

Dari sejumlah koleksinya, ia paling tertarik dengan tas rajut. Hal itu lantaran bentuknya unik dan detail. Barangnya pun langka dan susah didapat. Sejak itu, ia berkeinginan untuk bisa membuat tas rajut sendiri.

Obsesi Anggun untuk bisa merajut terbentur dengan tidak adanya tempat pelatihan skill tersebut di Tuban. Baru bisa terwujud ketika dia lulus kuliah, tepatnya pada 2015. Saat itu, Esni Hertali, bibi Anggun bertandang ke rumahnya untuk mengajari teknik-teknik dasar merajut. Setelah cukup menguasai teori dasar, dia pun belajar otodidak dari internet dan Youtube.

Ide untuk menjual karya tangannya berdasar anjuran dari teman-teman sepermainannya. Rupanya, banyak teman Anggun menyarankan agar karya rajutnya dijual. Awalnya, ia tidak percaya diri. Setelah iseng mem-posting di Instagram dan Facebook, ternyata tas rajut buatannya disambut pasar.

Saat itu, Anggun semakin termotivasi untuk menjadikan hobinya sebagai sumber pemasukan. Hanya saja, ia tidak bisa konsentrasi penuh karena baru bisa merajut sepulang dari kerja. Risikonya, hobi merajutnya tak bisa maksimal. Di tengah kesibukannya, dalam satu bulan, Anggun hanya bisa merajut 30 tas saja lantaran ia sendiri yang mengerjakan. Karena keterbatasannya untuk memproduksi masal, karya Anggun jadi lebih mahal. Setiap karya tangannya menjadi produk limited edition karena tidak bisa sama dengan rajutannya yang lain.

Meski demikian, sejumlah toko dan butik di berbagai kota rutin memesannya. Sekarang ini, ia telah mempunyai lima reseller aktif yang menjual tas rajut miliknya. Butik di Sangata (Kalimantan Timur), Tangerang, Bali, dan Surabaya adalah langganannya yang sering memesan tas rajutnya tersebut.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved