Dampak Positif dan Negatif Krill dalam Mengurangi Sampah Plastik di Lautan

Dampak Positif dan Negatif Krill dalam Mengurangi Sampah Plastik di Lautan

Nur AK
11 Maret 2018
Dibaca : 2183x
Krill bisa memberikan kontribusi lebih dalam melawan ancaman polusi plastik di lautan.

Masalah sampah sebagian besar menjadi masalah utama di laut. Hal itu dibuktikan oleh suatu penelitian, yang menyebutkan lebih dari delapan juta ton sampah berakhir di laut setiap tahunnya. Hal itu tentunya dapat merusak ekosistem, hingga dapat membunuh lebih kurang satu juta burung laut, 100.000 mamalia laut dan jenis ikan tertentu. Sampah tersebut biasanya adalah sampah yang sukar terurai, seperti plastik.

Tak usah jauh-jauh ke luar negeri, Indonesia juga memiliki sampah plastik yang mampir di beberapa lautan Indonesia.

Selain menjadi sorotan warga sekitar dan pengunjung. Sampah plastik juga dipermasalahkan oleh segenap aktivis lingkungan. Pemerintah pun pastinya turut memikirkan masalah tersebut.

Baru-baru ini, perairan laut Bali disorot oleh warganet, lantaran aksi seorang penyelam asal Inggris, Rich Horner yang mengunggah videonya di laut Bali yang dipenuhi sampah.

Namun, taukah Anda? Bahwa ada hewan kecil yang hidup di laut dan mampu menguraikan sampah plastik tersebut.

Peneliti ilmiah dari Universitas Griffith Australia, Amanda Dawson, menerangkan tentang temuannya pada saat mengerjakan sebuah proyek penelitian yakni plastik polietilen yang sering digunakan dalam kosmetik seperti scrub wajah yang dimasukkan ke dalam akuarium berisi ‘Krill’ yang tergolong ke dalam Divisi Antartika-Australia. Penelitian tersebut bertujuan untuk memeriksa efek racun dari polusi.

Krill dikenal sebagai udang geragau oleh orang Jawa. Dalam rantai makanan, mereka terletak pada bagian dasar, atau sering disebut sebagai mikroba (pengurai).

Krill merupakan hewan kecil yang menyerupai udang, yang memiliki ukuran 8 milimeter hingga 60 milimeter. Sebagian besar, udang jenis ini memiliki habitat hampir di semua wilayah lautan.

Zooplankton ini mampu mencerna mikroplastik yang berukuran kurang dari lima milimeter (0,2 inci). Kemudian, mereka mengeluarkannya kembali ke lingkungan dalam bentuk yang lebih kecil lagi.

Meski begitu, diam-diam, Krill bisa jadi memberikan kontribusi lebih dalam melawan ancaman polusi plastik di lautan.

"Kami menyadari bahwa Krill benar-benar mencerna plastik, sungguh menakjubkan. Sulit untuk mengetahui secara pasti apa implikasi dari ini, tapi kemungkinn karena plastik di laut sudah lebih rapuh. Sehingga lebih mudah dicerna oleh Krill," tutur Dawson.

Temuan ini ternyata juga memberikan dampak buruk bagi rantai makanan. Dawson memperingatkan, selain sampah plastik itu bisa terurai, namun partikel ekskret yang berukuran sangat kecil itu bisa jadi pemicu racun bagi rantai makanan.

Dengan kata lain, partikel tersebut bisa dimakan oleh ikan-ikan kecil, kemudian ikan kecil dimakan oleh ikan besar. Lalu, ikan besar dimakan oleh manusia. Sehingga bisa bersifat racun bagi makhluk hidup di dalam rantai makanan tersebut.

Sementara itu, Sekjen PBB Antonio Guterres, tahun lalu mengutip satu penelitian yang menunjukkan bahwa keberadaan sampah plastik bisa memiliki jumlah yang lebih besar daripada populasi ikan pada tahun 2050, jika tidak ada pencegahan polusi plastik.

Untuk itu, mari kita jaga lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya!

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2021 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2021 LampuHijau.com
All rights reserved