Derita Etnis Rohingnya Melawan Iklim dan Cuaca

Derita Etnis Rohingnya Melawan Iklim dan Cuaca

Nur AK
28 Jan 2018
Dibaca : 413x
Pertama, di awal tahun tepatnya akhir Maret, yang merupakan waktu di mana hujan lebat yang dapat membawa banjir bandang dan tanah longsor yang bisa saja melanda wilayah itu.

Masalah etnis Rohingnya belum juga usai penanganannya. Sejak mereka mengungsi di sebuah lereng bukit berdebu di Kutupalong, Bangladesh, yang sekaligus menjadi rumah baru bagi 800.000 pengungsi Rohingya. Lantaran melarikan diri dari konflik di Negara Bagian Rakhine.

Tempat yang terbilang aman dari serangan militer, ternyata belum bisa menghilangkan derita yang mereka alami. Di kamp pengungsian terbesar dunia itu, para pengungsi yang merupakan orang termiskin di dunia itu harus dihadapkan pada tantangan baru.

Pertama, di awal tahun tepatnya akhir Maret, yang merupakan waktu di mana hujan lebat yang dapat membawa banjir bandang dan tanah longsor yang bisa saja melanda wilayah itu. Padahal, Badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) telah memperingatkan akan bencana tersebut dan dampak yang akan dibawa olehnya. Namun, rupanya belum ada solusi untuk menangani masalah yang ada. Badan-badan bantuan khawatir rumah-rumah yang bertengger di lereng bukit itu bisa jatuh ke lembah yang dipenuhi air akibat hujan lebat.

Dikutip dari laman Sky News, perwakilan UNHCR, Richard Evans memperkirakan, setidaknya 20 persen atau 100.000 orang di kamp pengungsian bisa berisiko terkena dampak bencana (banjir dan tanah longsor). Belum lagi penyebaran penyakit yang dibawa oleh bencana tersebut. Jangan lupa juga ada risiko kebakaran di wilayah tersebut. Mereka berusaha untuk memindahkan para pengungsi ke wilayah lebih aman sebelum waktunya habis. dan penyakit menular.

Sementara itu, Dokter Badan Amal Save the Children menyatakan, dalam kondisi kamp yang relatif sempit, risiko penyakit menyebar akan lebih cepat. Misalnya saja, selama musim hujan di Bangladesh, diare dan kolera menjadi penyakit umum yang mudah ditularkan. Belum lagi penularan penyakit lain. Wabah difteri yang melanda sejak ribuan tahun lalu juga mengancam datang kembali.

Hidup mereka sepenuhnya bergantung pada bantuan internasional. Hingga saat ini, di tengah berbagai ancaman yang harus mereka hadapi, kelompok tersebut tetap berusaha bertahan di suatu kamp kecil tersebut.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2020 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2020 LampuHijau.com
All rights reserved