Tutup Iklan
ObatDiabetes
  
Fahira Idris Mengagumi Fatwa AM : Pahlawan Politik yang Konsisten dan Berani Berjuang

Fahira Idris Mengagumi Fatwa AM : Pahlawan Politik yang Konsisten dan Berani Berjuang

Nur AK
14 Des 2017
Dibaca : 128x
Indonesia dan umat Islam kembali kehilangan salah satu tokoh pemberani yang pernah dianiaya di era Orde Baru.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Indonesia dan umat Islam kembali kehilangan salah satu tokoh pemberani yang pernah dianiaya di era Orde Baru, AM Fatwa dipanggil Allah Subhanahu Wata’ala hari Kamis (14/12/2017) pukul 06.25 WIB.

Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 12 Februari 1939 bernama lengkap Andi Mappetahang Fatwa ini  mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit MMC, Jakarta. Senator dari DKI Jakarta dan dipercaya memimpin Badan Kehormatan (BK) DPD.

Politikus Indonesia turut menyampaikan bela sungkawanya kepada Anggota DPD RI perwakilan DKI Jakarta, Andi Mapetahang Fatwa (AM Fatwa) yang meninggal pagi tadi.

Rekan dari senator DKI, Fahira Idris mengaku kagum degan sosok dari AM Fatwa yang dinilai konsisten dan berani dalam berjuang.

"Di Indonesia, tokoh seperti AM Fatwa bisa dihitung dengan jari. Kecintaan terhadap Indonesia membuat dirinya ikhlas menempuh resiko mengorbankan kebebasannya bahkan nyawanya sekalipun. Setiap rezim berubah menjadi otoriter, Pak Fatwa-lah tokoh yang berada paling depan melawan. Dia menjadi ikon perlawan dan sikap kritis terhadap rezim Orde Lama dan Orde Baru," ungkap, Kamis (14/12/2017).

Fahira menilai AM Fatwa sebagai sosok yang konsisten memihak kebenaran, serta menuturkan AM Fatwa banyak berkorban untuk memperjuangkan idealismenya.

"Dia rela tubuhnya didera, jiwanya dibelenggu dan kebebasannya direnggut demi konsistensinya memihak kebenaran dan menyuarakan suara rakyat yang dizalimi. Dia rela kehilangan sebagian besar umurnya di penjara demi melihat Indonesia menjadi negara besar yang demokratis. Jika bicara konsistensi, keberanian, dan bertanggung jawab, AM Fatwa-lah orangnya," jelas Fahira.

AM Fatwa diketahui meninggal dunia pada usia 78 tahun. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari DKI Jakarta ini meninggal di Rumah Sakit MMC, Kuningan, Jakarta Selatan.

“Pak Fatwa, kami rakyat Indonesia berutang banyak kepadamu. Engkau telah mengajarkan kepada kami apa itu konsistensi, keberanian, dan tanggung jawab. Engkau telah tunjukkan kepada kami bagaimana cara mencintai Indonesia seutuhnya,” lanjutnya mengungkapkan.

“Walau ragamu sudah tiada, namamu terukir abadi di hati kamu. Apa yang telah engkau lakukan akan dicatat dalam tinta emas perjalanan negeri yang besar ini. Beristirahatlah dengan tenang Pak Fatwa, temui penciptamu. Izinkan kami melanjutkan perjuanganmu menjaga Indonesia,” pungkas Fahira yang mengaku sedang berada di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Sebelum menjadi anggota DPD, AM Fatwa pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI di periode 1999-2004. AM Fatwa juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI periode 2004-2009.

Fahira Idris dengan AM Fatwa pernah menjalin kerja samanya dalam perundingan masalah politik Indonesia. Meskipun AM Fatwa kini telah tiada, namun Fahira mengaku akan selalu mengenang dan melanjutkan sepak terjang perjuangan almarhum.

Almarhum juga dikenal sebagai ikon perlawanan Rezim Orde Lama dan Orde Baru, ketika militer masih kuat dan dominan. AM Fatwa pernah didudukkan secara paksa oleh rezim otoriter Orde Baru dalam kasus Tanjung Priok berdarah tahun 1984. Dalam kasus ini, beliau banyak mengalami penyiksaan, penuntutan, dan pengadilan yang tidak jujur.

Guna membantah tuduhan rezim otoriter Orde Baru, mantan Ketua MPR 2004-2009 ini harus membuat pledoi setebal 1.118 halaman, yang dibacanya sendiri di pengadilan tanpa bantuan orang lain, tanpa istirahat hingga menjelang tengah malam. Dalam pledoinya Fatwa menuturkan mengalami penyerangan oleh rezim yang represif dan militer.

Ia juga mengalami teror dan tekanan. Dalam sebuah wawancara, Fatwa mengaku diteror intel yang menyamar menjadi preman hingga gegar otak. Yang paling parah saat menyetir, dia dibacok pakai celurit oleh orang tidak dikenal.

“Mandi darah saya. Kemudian, saya ke rumah sakit Angkatan Laut. Yang mendorong saya ke ruang operasi itu dua jenderal purnawirawan Jendral Ali Sadikin dan Letnal Jendral HN Darsono. Itu waktu saya sekretaris Petisi 50,” ujarnya atas usaha pembunuhan yang gagal kepada laman Merdeka, Maret 2017 silam.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosanya, meringankan hisabnya, melapangkan kuburnya, dan memberikan tempat terindah di sisi-Nya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved
Tutup Iklan
JusKulitManggis