Hasil Survey : Ridwan Kamil Unggul Jauh di Atas Lawan-Lawan Politiknya

Hasil Survey : Ridwan Kamil Unggul Jauh di Atas Lawan-Lawan Politiknya

Admin
3 Nov 2017
Dibaca : 341x
Hasil Survey kalau Pilgub Jawa Barat Diadakan Sekarang

Jika Pilgub Jawa Barat diadakan sekarang, siapa yang dipilih?

Ridwan Kamil : 16,8 persen

Deddy Mizwar : 3,8 persen

Dedi Mulyadi : 2,2 persen

Aa Gym          : 1,5 persen

Dede Yusuf     : 0,9 persen

Lain-lain

Catatan 70,5 persen menyebutkan calon yang dipilih secara spontan

Sumber : SMRC 2017

LampuHijau – Wali Kota Bandung Ridwan Kamil masih berada di atas lawan-lawan politiknya dalam kontestasi Pemilihan Gubernur Jawa Barat (2018). Merujuk survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), pria yang akrab disapa Kang Emil itu unggul relatif jauh dari Duo D: Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi) yang menjadi lawan terberatnya.

Dalam rilis yang disampaikan SMRC, elektabilitas Emil mencapai 16,8 persen. Sementara wakil gubernur incumbent Deddy Mizwar ada di 3,8 persen dan menguntit di bawahnya Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dengan 2,2 persen.

Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan menjelaskan, keunggulan Emil tidak hanya dalam level Top of Mind. Dalam beberapa simulasi yang dilakukan, seperti semi terbuka, sepuluh nama, delapan nama, enam nama hingga tiga nama, wali kota berlatar belakang arsitek itu unggul. ”Ridwan Kamil konsisten berada di urutan teratas,” ujarnya di Kantor SMRC, Jakarta, kemarin (2/11). Dengan data tersebut, Emil menjadi sosok yang paling potensial menang.

Dalam beberapa simulasi itu sendiri, sosok Deddy Mizwar menjadi lawan berat bagi Emil. Sebab, pemeran Naga Bonar itu selalu menguntit di posisi dua. ”Deddy penantang paling serius,” imbuhnya.

Meski demikian, dia mengingatkan, data tersebut hanya diperoleh dari 29,5 responden. Sebab, dalam survei tersebut, 70,5 persen responden belum bisa menyatakan pilihannya secara spontan. Dengan wadanya jeda waktu sekitar tujuh sampai delapan bulan, segala kemungkinan masih bisa terjadi.

”Secara umum, di Jabar masih cair dan kompetitif untu beberapa nama,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Sekjen Partai Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan, tingginya elektabilitas Emil sebagai hal yang positif. Bersama koalisi, pihaknya tengah mencoba mencari sosok pendampingnya.

Ace menjelaskan, sebagai pemilik 17 kursi, partainya akan menawarkan wakil gubernur. Saat ini, nama anggota DPR Daniel Muttaqien menjadi nama yang paling potensial. ”PPP yang sembilan kursi saja mengusung kadernya, masa golkar yang 17 tidak bisa,” ujarnya.Ace yakin, sosok Daniel akan memberi nilai positif. Selain muda, dia juga diharapkan bisa menyedot suara dari kawasan pantura. ”Kang Emil kurang kuat di kultur pantura, sementara Daniel Mutaqien memiliki basis kuat di Cirebon dan Indramayu,” terangnya.

Sementara itu, kemunculan nama Daniel Muttaqien sebagai pendamping Ridwan Kamil untuk maju di Pilgub Jabar mendapat sambutan khusus dari kalangan nahdliyin di Jawa Barat, termasuk di Karawang.

Ketua Tanfidiyah PCNU Karawang KH Ahmad Ruhiyat mengaku sangat menyambut baik tampilnya Daniel sebagai bakal calon wakil gubernur mendampingi sosok Ridwan Kamil.

”Meski pada prinsipnya NU netral dalam bidang perpolitikan, namun jika ada tokoh dari kalangan nahdliyin yang tampil kita sangat bungah (gembira) menyambutnya. Apalagi yang tampil seperti figur Pak Daniel yang masih dari kalangan pesantren seperti kita,” papar Ahmad kemarin.

Apalagi,  kata dia, Daniel Muttaqien yang kini anggota DPR RI dari Pantura Jabar itu dipasangkan dengan sosok Ridwan Kamil yang sementara ini selalu unggul di survei-survei jelang Pilkada Jabar.

”Sebenarnya dari sudut pandang NU siapapun yang berkomitmen untuk membangun Jabar selalu didukung. Apalagi tokoh-tokoh yang tampil saat ini tidak diragukan lagi ke-NU-annya. Seperti Pak Daniel, Pak Dedi Mulyadi dan juga Pak Ridwan Kamil. Sementara untuk urusan usung mengusung kita persilahkan kepada parpol sebagai instrument demokrasi untuk menggodoknya,” tutur Ahmad.

Sebelumnya, pimpinan Pondok Pesantren Daarul Ishlah Kabupaten Subang, KH Suherman, menilai Daniel Muttaqien Syafiuddin tepat disandingkan dengan Ridwan Kamil pada Pilkada Jawa Barat 2018.

”Kang Daniel Muttaqien bukan orang baru di kancah politik. Dia berpengalaman di legislatif. Jadi, Daniel itu jelas punya cukup pengalaman di dunia politik,” ujar KH Suherman di Bandung, kemarin.

Untuk diketahui, Daniel Muttaqien Syafiuddin telah mendapat restu dari DPP Partai Golkar untuk mendampingi Ridwan Kamil. Suherman menilai, Daniel juga tidak bisa dilepaskan dari kiprah keluarga besarnya di Pantura yang berlatar belakang pesantren dan bergaris keturunan ulama yang kuat.

”Dan saya juga tahu Kang Daniel itu cicit dari KH Abdul Manan, seorang ulama besar di wilayah Pantura, dia juga menjadi bagian dari keluarga besar ulama Sukaratu (Indramayu),” kata Suherman.

Dia menilai Daniel, memiliki pengaruh besar di Pantura yang mencakup Kabupaten Indramayu, Kabupaten Subang, Cirebon, Majalengka, dan Kuningan termasuk Kabupaten Sumedang.

”Kang Emil memang tidak diragukan di wilayah tengah dan pusat Jawa Barat, maka sangat tepat jika disandingkan dengan Daniel Muttaqien Syafiuddin yang cukup berpengaruh di wilayah utara,” jelas Suherman.

”Jadi Insya Allah tidak akan banyak hambatan untuk Pilgub Jabar. keadaan Indramayu sendiri yang lebih baik, kini dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat,” ujarnya lebih lanjut.

Berkat peran keluarga besar Daniel Muttaqien Syafiuddin, kata Suherman, Indramayu berubah menjadi lebih baik.  ”Sebelumnya Indramayu identik dengan tawuran, tertinggal, dan sejumlah stigma negatif lainnya. Tapi sekarang semuanya sudah jauh lebih baik, infrastruktur dibangun sampai ke desa-desa, bahkan jadi percontohan bagi daerah sekitarnya,” tandasnya.

Di bagian lain, Partai Gerindra menilai PKS terutama di level elite terlalu memaksakan skenario paket pasangan Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu di Pilgub Jabar tanpa melihat mitra koalisinya yaitu Partai Gerindra.

”Sayangnya elite PKS terkesan memaksakan skenario sendiri, tanpa melihat mekanisme dan harapan Gerindra, bahkan kader PKS sendiri,” papar Ketua Dewan Pimpinan Daerah Jawa Barat Partai Gerindra, Mulyadi.

Seharusnya lanjut Mulyadi, yang dilakukan PKS terutama di level elite-nya (DPP PKS) lebih mengedepankan interaksi terutama komunikasi antara pengurus tertinggi dengan kader-kadernya di level bawah. Termasuk berkomunikasi dengan Gerindra membahas soal nama pasangan calon yang akan diusung dalam paket kandidat. ”Jadi, ada interaksi yang harus saling menghormati jika akan membangun koalisi dengan Partai Gerindra,” jelasnya. ”Skenario elite PKS (Demiz dan Ahmad Syaikhu) ini terlalu dipaksakan,” keluhnya.  

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved