Kisah Sabun Sunlight dari Masa Perang Dunia I Hingga Sekarang

Kisah Sabun Sunlight dari Masa Perang Dunia I Hingga Sekarang

Nur AK
19 Des 2017
Dibaca : 827x
Sabun merk Sunlight terbilang tua usianya.

Di Indonesia, kebiasaan mencuci piring nyaris identik dengan "Sunlight". Sunlight yang berarti sinar matahari adalah merk sabun cuci piring, merupakan salah satu dari sekian banyak merk yang beredar di pasaran. Namun Sunlight amat populer, sehingga tak jarang orang menyebut sabun cair yang merka pakai apapun sebagai Sunlight.

Sabun merk Sunlight terbilang tua usianya. Menurut catatan Jan-Benedict Steenkamp dalam Global Brand Strategy: World-wise Marketing in the Age of Branding ( 2017:2), sabun ini diperkenalkan oleh Duo Barsaudara Lever, William Hesketh Lever (1851–1925) dan James Darcy Lever (1854–1916), di Inggris. Tepatnya saat Ratu Victoria berjaya.

Sunlight saat itu hadir untuk mencuci pakaian dan alat-alat rumah tangga. Menurut catatan Brian Lewis dalam So Clean: Lord Leverhulme, Soap and Civilisation (2008:9), berkat uang yang dikumpulkan keluarganya, dua bersaudara itu pun mulai membuat sabun di Warrington sejak 1885.

Bisnis berkembang, usaha mereka lalu berpindah ke kawasan bernama Port Sunlight. Sebagai perusahaan, modal merka di tahun 1890 mencapai 300 ribu poundsterling. Perusahaan merka dinamai awalnya Lever Brothers. Lever Brothers, menurut JA Roels dalam The Origin and the Evolution of Firms: Information as a Driving Force (2012:168), kemudian bersepakat melakukan merger dengan Margarine Unie pada 1929. Maka, akhirnya, pada 1930, Unilever pun resmi berdiri.

Saat melewati masa Perang Dunia Pertama, di majalah The War Budget (30 Desember 1915), Sunlight memasang iklan, dengan gambar serdadu Inggris dalam pose menembak di dalam parit pertahanan. Sunlight ingin menjadikan serdadu-serdadu Inggris, yang disebut Tommy Inggris, sebagai petarung terbersih di dunia.

Sunlight ujungnya sampai juga ke tangan orang-orang Belanda, sebelum Unilever membangun pabrik di Indonesia. Apalagi, Margarine Unie yang berpusat di Rotterdam, adalah perusahaan Belanda. Menurut catatan Hans W. Wamsteker dalam 60 Years Unilever in Indonesia, 1933-1993 (1993:19), sejak 1928 telah ada usaha dari Lever Brothers untuk mengekspor sabun ke Hindia Belanda.

Seseorang bernama Charles Tatlows-lah yang mengerjakan upaya itu. Menurut J.T. Lindblad di buku Colonial Exploitation and Economic Development (2013:222), Tatlow bertandang dua kali ke Hindia Belanda, pada 1928 dan 1932. Mewakili Lever Brothers, Tatlow menyelidiki prospek memproduksi sabun batangan Sunlight di Hindia yang kala itu merupakan koloni Belanda.

“Pada 29 November 1933 dua orang Unilever itu ke Istana Bogor, untuk mengabarkan Gubernur Jenderal tentang keinginan Unilever membangun pabrik sabun di Batavia,” tulis Hans W. Wamsteker (1993:26). Kebetulan, pajak di kota Batavia lebih rendah ketimbang Surabaya.

Akhirnya, menurut catatan Huib Akihary dalam Ir. F.J.L. Ghijsels, Architect in Indonesia, 1910-1929 (1996:116), lokasi yang dipilih adalah Bacherachtsgracht—belakangan menjadi Jalan Pangeran Tubagus Angke 170, Jakarta. Pabrik itu dibuka pada 15 Desember 1934. Unilever kemudian tak hanya memproduksi Sunlight saja, tapi juga Lux.

Sabun cuci Sunlight yang beredar di Batavia, sama seperti di Negeri Belanda, disebut Sunlight Zeep. Dalam bahasa Belanda, "zeep" berarti sabun. Ia kemudian dikenal sebagai sabun Tjap Tangan, barangkali karena di kotak bungkusnya ada gambar dua tangan.

Ada masa di mana Sunlight sulit dicari. Suhario Padmodiwirio alias Haryo Kecik mengalami masa-masa itu. Dalam Memoar Hario Kecik: Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit (1995:33) dia mengaku: “Kami bisa mendapatkan sabun cuci Sunlight atau 'cap tangan' yang bermutu tinggi, tapi di pasar gelap yang waktu itu dinamakan 'Perdagangan Catutan', dengan harga sangat tinggi.”

Ketika Sunlight alias sabun Tjap Tangan itu sulit didapat pada 1940an, muncul produsen sabun cuci B-29. Menurut catatan Frans Royan dalam Distributorhip Management (2010:13), produsen sabun B-29 muncul pada 1942 dengan nama Sinar Antjol.

Catatan yang umum beredar di dunia maya menyebut Sinar Antjol didirikan oleh Go Se Ho alias Sewu Gunawan. Ia membuat sabun colek B-29 karena sulitnya mendapatkan sabun Tjap Tangan.

Tak hanya Go Se Ho saja yang bikin sabun pada 1940-an. Menurut Ari Satrio Wibowo dalam 45 Kisah Bisnis Top Pilihan (2006:75), keluarga Katuari sejak 1948 sudah membangun industri sabun batangannya ketika Sunlight dianggap mahal dan merajai pasaran. Ini agak lucu, sebab pada akhir dekade 1950-an, iklan sabun Sunlight Tjap Tangan muncul di majalah Varia (1959:26) dan Madjalah Angkatan Darat (1957:84), dan mendaku sebagai sabun hemat.

Sabun Sunlight batangan Tjap Tangan, yang bisa digunakan untuk mencuci baju, saat ini sulit ditemukan di Indonesia. Lebih mudah menemukan Sunlight cair untuk mencuci piring. Untuk urusan mencuci baju, produk Unilever tampaknya memang merajai pasaran.

Sampai saat ini, sabun Sunlight cair lebih mudah didapatkan daripada sabun Sunlight batangan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved