Memahami Perbedaan Sistem Musyawarah dan Demokrasi

Memahami Perbedaan Sistem Musyawarah dan Demokrasi

Shalahudin Ahmad
8 Des 2017
Dibaca : 982x

Demokrasi adalah sistem dimana keputusan dan kebenaran ditentukan oleh mayoritas suara dengan prinsip satu orang satu suara. Tak perduli antara yang kaya dan miskin, berkuasa atau tidak, pintar atau bodoh semua akan punya satu suara kecuali beberapa kategori yang diperkecualikan seperti belum cukup umur atau kehilangan hak politiknya.

Demokrasi dianggap ideal meskipun punya cacat besar. Cacat besar demokrasi adalah gampang dimanipulasi dengan berbagai rekayasa komunikasi, pencitraan, rekayasa media.

Tak heran dalam sistem demokrasi, maka pemilihan selalu melibatkan tim sukses yang tugasnya bukan hanya memenangkan pemilihan dan mempersiapkan diri agar bisa menang, tapi juga termasuk menyiapkan berbagai rekayasa lewat media baik media sosial, elektronik dan media cetak, lewat teknologi informasi, dan berbagi channel lain. Dalam susunan tim sukses selalu ada ahli komunikasi media, ahli psikologi massa, ahli image and public perception yang semuanya bertujuan untuk menyulap kandidat agar bisa dipilih oleh para pemilih.

Tak heran dengan rekayasa demikian maka seorang koruptor yang sudah jadi tersangka dalam banyak kasus dengan jejak nyata bisa disulap dan dicitrakan sebagai orang dermawan. Seorang yang otoriter bisa disulap menjadi seorang yang dekat dengan rakyat dan tanggap dengan aspirasi rakyat. Bahkan seorang pembohong pun bisa disulap menjadi seorang lugu polos yang seakan tak pernah mengenal arti kata bohong.

Dalam musyawarah maka keputusan dan kebenaran ditentukan lewat musyawarah dimana disitu terjadi proses tukar argumen berdasarkan logika yang valid dan fakta yang bisa diverifikasi. Suatu usulan dibahas plus dan minusnya, scope dan batasannya, implikasi dan resikonya. Tak peduli suatu usulan meskipun hanya diusulkan oleh satu orang tapi didukung argumen logika dan fakta akan bisa mengalahkan usulan yang diusulkan oleh banyak orang tapi hanya didasarkan atas asumsi dan perkiraan.

Sejuta orang yang mengatakan ruang semesta raya berwarna biru akan dikalahkan oleh suara satu orang Neil Armstrong yang mengatakan ruang semesta raya hitam gelap, karena Neil Armstrong bisa menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya sendiri bahwa ruang angkasa itu berwarna hitam disertai dengan foto dari ruang angkasa.  Sejuta orang bisa salah pendapatnya yang tak punya bukti nyata dikalahkan oleh suara satu orang yg mempunya bukti nyata.

Apakah dalam musyawarah semua orang harus membahas dan berembuk untuk membahas sesuatu pokok hal ? Dalam implementasinya tidak selalu demikian. Musyarawah bisa dimulai dengan memilih orang yang pantas untuk duduk dalam dewan musyawarah tingkat negeri dan orang-orang yang disinilah yang akan sehari-hari bermuyawarah mencari solusi untuk berbagai persoalan. Hasil keputusan musyawarah yang dibahas oleh orang-orang berkualitas yang juga dipilih dari hasil musyawarah dengan melihat berbagai rekam jajak dan kredensial baik ahlak, pikiran ataupuan gagasannya. 

Sementara bisa kita saksikan sendiri, produk demokrasi hanya menghasilkan wakil rakyat yang banyak diantaranya hanya berakhir di balik jeruji besi. Produk-produknya adalah UU yang syarat ditunggangi kepentingan pengusaha seperti ketika UU tembakau diloloskan.

Ketika seseorang bertauhid maka sebenarnya dia menyatakan kedaulatan adalah ditangan Tuhan dan bukan ditangan rakyat. Tuhan lah yang mendelegasikan dan merekomendasikan untuk bermusyawarah terhadap segala urusan yang ada.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved