Nasib Para Sandra di Mimika Papua, Sehari Makan Sekali Nasi Putih Saja

Nasib Para Sandra di Mimika Papua, Sehari Makan Sekali Nasi Putih Saja

Bang RM
15 Nov 2017
Dibaca : 305x
nasib para sandra di Mimika Papua saat ini sudah tidak bisa dihubungi lagi, terakhir terdapat 33 sandra yang berasal dari Desa Kedondong Kabupaten Demak

 

Sebanyak 34 keluarga warga desa Kedondong Kecamatan Demak, Kabupaten Demak  ramai – ramai mendatangi kantor Kepala Desa Kedondong  menanyakan nasib keluarga mereka yang masih di Sandra di Tembagapura, Mimika, Papua.

Dan memang sampai saat ini masih terdapat 33 warga asal Demak lainnya yang menjadi Sandraseperti yang diberitakan saat berkomukasi dengan salah satu sandra.

Dalam percakapan itu, Ismail menuturkan bahwa jumlah komplotan yang oleh aparat keamanan disebut Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kurang lebih 100 orang. Ismail adalah salah satu warga yang ikut disandra oleh komplotan bersenjata tersebut saat menghubungi lewat telepon dengan kepala Desa Kedondong Sistianto.

Mereka saat ini tidak berada di desa, tempat Ismail tingggal. Mereka umumnya bekerja sebagai buruh tambang dan pedagang di dekat area pertambangan PT Freeport di Tembagapura.

"Kami berada di sebuah desa, kami dalam kondisi tidak boleh keluar dari desa dan melakukan interaksi dengan dunia luar desa ini. Kami tidak diikat, hanya saja semua kegiatan kita hanya dilakukan di desa ini," kata Ismail.

Ke-34 warga Demak itu menjadi bagian dari 1.300-an warga Kampung Banti dan Kimbely, Tembagapura, Mimika, Papua, korban penyanderaan oleh KKB.

“Bagaimana para warga korban penyanderaan memenuhi kebutuhannya? Ismail menceritakan, setiap hari mereka masih bisa makan. "Makan nasi saja kami. Sehari sekali," kata dia.

Dalam perbincangan singkat itu, Ismail menceritakan, para penyandera juga menyita segala perangkat komunikasi warga, termasuk handphone.

"Namun ada (warga) yang bisa menyembunyikan alat komunikasi ini," katanya.

"Tidak ada kontak lagi saat ini, kami berharap mereka dalam keadaan baik-baik saja karena setiap harinya mereka di-sweeping (oleh penyandera). Mungkin alat komunikasi mereka sudah disita oleh sekelompok bersenjata itu," kata Sistianto Kepala Desa Kedondong Demak.

Sementara itu, Bupati Demak, M Natsir, mengaku belum tahu mengenai 34 warganya yang menjadi korban penyanderaan di Papua.

Tetapi Bupati Demak menyatakan, tidak akan tinggal diam atas nasib warganya di tanah perantauan itu.

Dan Warga berharap, kepala desa menjembatani komunikasi dengan aparat kepolisian dan TNI untuk memperjuangkan keluarga mereka yang tersandera di Papua.

Semoga semua dapat pulang dengan selamat tanpa kurang satu apapun dan cepat terselesaikan, amin.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved