Pemprov DKI Mengolah Sampah dari Energi Termal menjadi Energi Listrik

Pemprov DKI Mengolah Sampah dari Energi Termal menjadi Energi Listrik

Nur AK
22 Maret 2018
Dibaca : 268x
Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT Rudi Nugroho menjelaskan bahwa pemilihan teknologi termal berdasarkan kriteria Best Available Technology Meet Actual Need (BATMAN).

Sampah menjadi masalah inti di perkotaan besar, seperti DKI Jakarta. Hal ini membuat pemerintah kota harus turun tangan supaya sampah tidak mengganggu kehidupan masyarakat dan bermanfaat untuk kesejahteraan hidup masyarakatnya.

Meningkatnya jumlah sampah biasanya sebanding dengan peningkatan jumlah penduduk di daerah tersebut. Berdasarkan data Badan Pusat Statisik, jumlah penduduk DKI Jakarta pada 2015 mencapai 10,18 juta jiwa. Kemudian meningkat menjadi 10,28 juta jiwa pada 2016, dan menurut data terakhir yang dihimpun jumlahnya bertambah menjadi 10,37 juta jiwa pada 2017. Artinya, selama dua tahun terkahir jumlah penduduk di Ibu Kota bertambah 269 jiwa setiap hari atau 11 orang per jam.

Menaggapi hal itu, dengan menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan sistem pengolahan sampah menggunakan proses termal yang ramah lingkungan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, senilai Rp 900 miliar.

Dengan adanya pengolahan sampah menggunakan sistem tersebut, hasilnya bisa berupa energi listrik. Kepala BPPT Unggul Priyanto mengungkapkan, pilot project ini mempunyai kapasitas 50 ton per hari, dengan hasil listrik 400 Kw, menggunakan teknologi termal tipe Stoker-grate.

Hal itu, dinilainya merupakan soluisi yang tepat karena daerah besar seperti DKI ini setiap harinya memproduksi sampah sekitar 7.000 ton sehingga memerlukan teknologi yang tidak menimbulkan pencemaran. Menurutnya, teknologi ini sudah proven dan paling banyak dipakai di negara maju seperti Jepang, Jerman dan negara-negara di Eropa lainnya.

PLTSa yang dibangun di Bantargebang ini seluruhnya diatur oleh putra bangsa Indonesia, mulai dari desain mesin hingga pelaksanaan pengerjaan, yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing dengan negara lain. Dengan harapan bisa selesai dalam satu tahun, pihaknya menghimbau ada dukungan dan sinergi antar pemangku kepentingan, dan bisa berkomitmen penuh.

Sementara itu, Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT Rudi Nugroho menjelaskan bahwa pemilihan teknologi termal berdasarkan kriteria Best Available Technology Meet Actual Need (BATMAN), yaitu teknologi terbaik (proven) yang banyak digunakan di dunia. teknologi ini cocok untuk semua jenis dan kondisi sampah di Indonesia. Selain itu juga bersifat ramah lingkungan serta memiliki potensi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi.

Rudi membenarkan bahwa sebagian besar peralatan merupakan produksi dalam negeri, yang terdiri dari empat peralatan utama yaitu bunker terbuat dari concrete yang dilengkapi dengan platform dan crane; ruang bakar dengan reciprocating grate yang di desain dapat membakar sampah dengan suhu di atas 950 derajat Celcius sehingga meminimalkan munculnya gas buang yang mencemari lingkungan. Lalu, panas yang terbawa pada gas buang hasil pembakaran sampah itu digunakan untuk mengonversi air dalam boiler menjadi steam di dalam boiler dan steam yang dihasilkan digunakan memutar turbin untuk menghasilkan listrik. Bahasa sederhananya adalah, mengubah energi termal menjadi energi listrik.

Pihak BPPT menjelaskan, proyek ini menggunakan sampah dari TPST Bantargebang dengan desain nilai kalori (LHV) yang ditetapkan sebesar 1.500 kkal/kg, kapasitas sebesar 50 ton sampah/hari dan diprediksikan akan menghasilkan listrik sekitar 400 kW. Walaupun masih besar listrik yang diproduksi oleh PLN, produksi listrik dari PLTSa tersebut ditargetkan minimal mencukupi kebutuhan internal peralatan PLTSa sendiri.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved