Tutup Iklan
jus kulit manggis
  
Pengamat Politik FISIP Unpad: Garansi Demokrat ke Jokowi Harus Dapat Efek Elektoral

Pengamat Politik FISIP Unpad: Garansi Demokrat ke Jokowi Harus Dapat Efek Elektoral

Nur AK
21 Maret 2018
Dibaca : 206x
Jika Demokrat bergabung dengan barisan pendukung Jokowi akan bisa mempersiapkan AHY untuk unjuk gigi di Pilpres 2024.

Baru-baru ini, tampaknya Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akrab dan dekat dengan Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Kedekatan tersebut membuat keduanya saling menghormati sebagai ketum partai biru dan merah itu. Kedua partai diakui sudah sangat terkenal di ranah politik Indonesia ini.

Namun, masih saja ada isu-isu yang mengatakan kalau kedua partai adalah pesaing terberat di antara partai-partai lainnya.

Pada momen langka ini, SBY berkesempatan untuk menghadiri perayaan Seminar Nasional Hari Perempuan Internasional di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (19/3) silam, yang juga dihadiri oleh Ibu Mega. SBY dilaporkan sempat memuji Ibu Mega yang sempat menjadi ibu negara yang telah meraih kesuksesan di Tanah Air kita ini. Hal itu dinilai adalah sebuah pujian yang secara politik bukanlah hal yang biasa-biasa saja.

Rupanya, pada Pilpres 2004, SBY pernah mundur dari posisi menteri di kabinet Megawati. Kemunduran SBY lantaran supaya bisa maju di ajang Pilpres 2004 dan tentunya harus melawan Ibu Mega. Sejak saat itulah hubungan keduanya dianggap kurang baik dan sempat dingin.

Di sisi lain, SBY juga memuji Presiden Jokowi saat Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat di Sentul Internasional Convention Center (SICC), Jawa Barat, Sabtu (10/3) lalu. SBY mengungkapkan bahwa alangkah baiknya jika kepemimpinan Jokowi dilanjutkan. SBY menambahkan, Demokrat akan selalu siap apabila diajak berkoalisi mendukung Jokowi di Pilpres 2019.

Ada apa gerangan dengan pujian SBY yang diterbangkan oleh udara kepada Ibu Mega dan Presiden Jokowi tersebut?

Pengamat Politik FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad), Muradi menilai bahwa SBY sedang melakukan manuver politik dengan memuji orang utama yang ada di partai PDIP. Ia memprediksikan, Demokrat memerlukan pijakan yang kuat dan kokoh di Pilpres 2019. Pasalnya, jika Demokrat mendukung Prabowo tak akan mendapat apa-apa. Sedangkan, jika Demokrat bergabung dengan barisan pendukung Jokowi akan bisa mempersiapkan AHY untuk unjuk gigi di Pilpres 2024.

Ya tinggal tunggu saja, prediksi dari Muradi tersebut ada benarnya atau tidak. Atau bahkan keduanya salah semua. Sebab, lika-liku politik di Indonesia ini memang susah ditebak. Terlebih pemilik partai yang sudah terpilih untuk maju ke Pemilu 2019, mereka semua pasti menginginkan sukses dalam kontestasi Pemilu mendatang.

Ia menambahkan, pujian yang dilontarkan SBY terhadap Megawati dan Jokowi tak gratis dalam dunia politik ini. Hal itu dianggap sebagai langkah untuk mengambil hati keduanya. Secara, dalam hitungan politik, Jokowi sudah mengantongi dukungan 5 parpol. Sehingga PDIP perlu memikirkan kembali jika menambah partai apakah hanya akan menambah beban politik atau tidak? Terlebih Jokowi akan menduduki jabatan untuk periode kedua. Apalagi, jika ditinjau dari kalkulasi dukungan rakyat, Demokrat dianggap tidak terlalu besar pada Pemilu mendatang.

Menurut Muradi, garansi Demokrat ke Jokowi harus dapat efek elektoral. Jika tidak terpenuhi, ya buat apa? Ia menegaskan, lebih baik tidak usah diambil kalau tidak ada efek elektoralnya. Soalnya kalau makin gemuk koalisi justru makin memperburuk keadaan partai dan yang diusungnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved
Tutup Iklan
hijab