Tutup Iklan
powerman
  
Perbedaan Pendapat Kedua Kubu Capres 2019 tentang Koalisi Umat

Perbedaan Pendapat Kedua Kubu Capres 2019 tentang Koalisi Umat

Nur AK
9 Jun 2018
Dibaca : 99x
Ia menilai koalisi umat itu hanya angan-angan. Alasannya tak mungkin sekali bisa terbentuk koalisi umat dalam waktu yang sangat singkat.

Perbedaan pendapat antara kubu Jokowi yang minim akan koalisi umat dengan kubu Prabowo yang ingin berusaha membentuk koalisi melalui Pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab, kian memanas.

Di kubu Jokowi, Ketua DPP Golkar, Ace Hasan Syadzily memastikan adanya kelompok partai yang terdiri dari Gerindra, PKS, PAN dan PBB yang akan membentuk koalisi umat tak akan menggoyahkan koalisi di kubu Jokowi.

"Enggak tuh, sama sekali tidak, enggak mengganggu. Itu tidak akan mengganggu partai Golkar dan koalisi pemerintahan Pak Jokowi. Dan saya kira kan partai-partai yang sudah diajak koalisi keumatan saja sudah ada beberapa yang menolak kok," tegasnya, Sabtu (9/6/2018).

Ace masih tak yakin jika koalisi tersebut benar-benar terbentuk, sebab dinilai masih sangat mentah dan belum ada platform yang jelas.

"Kan harus jelas dulu, kan koalisi itu yang pertama yang disatukannya kan platform-nya dulu mau apa, kedua baru bicara soal siapa capresnya, siapa cawapres nya, apa ini sudah ketemu atau tidak? Kan ini belum masih panjang. Jadi saya enggak yakin kok koalisi keumatan terbentuk," paparnya.

Senada dengan Ace, Desmond Junaidi Mahesayang juga tak yakin koalisi umat untuk Pilpres 2019 akan terbentuk. Menurutnya, hal itu dilihat dari PKB yang merupakan partai berbasis Islam tidak menyatu dengan koalisi umat, bagaimana dengan Gerindra sendiri yang berlatar belakang nasionalis.

"Apa mungkin PKB bisa bergabung dengan PAN, dan PKS. Kalau bicara koalisi keumatan kan sebenarnya ini partai-partai Islam tidak termasuk dalam kategori Gerindra yang nasionalis menyatukan partai Islam sendiri, bisa enggak," tukasnya.

Ia menilai koalisi umat itu hanya angan-angan. Alasannya tak mungkin sekali bisa terbentuk koalisi umat dalam waktu yang sangat singkat. Apalagi, waktu pendaftaran Pemilu dan pencoblosan Pilkada semakin dekat.

"Bagi saya koalisi keumatan itu suatu keniscayaan untuk mereka bisa lebih konkret di 2019, karena di 2019 ini kan mulai Juni, Agustus kan, mungkin enggak dalam waktu dua bulan? Hanya keajaiban yang bisa membentuk koalisi keumatan," sambung Desmond.

Sebelumnya, anggota badan komunikasi DPP Gerindra, Andre Rosiade menegaskan kehadiran Rizieq sangat berpengaruh di Pilpres 2019 mendatang dan dianggap sebagai pemersatu umat di Indonesia. Diprediksikan, nantinya Rizieq akan mendukung Prabowo yang telah akan mencalonkan diri sebagai Capres 2019.

"Faktanya memang Habib salah satu tokoh bangsa ya, salah satu ulama besar di bangsa ini, tentu ada peran dan pengaruhnya. Jadi sedikit banyak sih ada pengaruhnya beliau itu. Ini kan koalisi umat, umat tuh kan rakyat ya, jadi pak Prabowo walaupun koalisi umat dipastikan berdiri di seluruh golongan, seluruh golongan di Republik Indonesia, pak Prabowo bukan presiden satu golongan tapi Presiden seluruh rakyat Indonesia," pungkasnya.

Namun, apabila kita tinjau bersama, dinamika politik selalu mengalami fluktuasi yang sangat cepat. Untuk itu, sesama pejuang kemenangan dalam kontestasi pemilihan umum presiden dan gubernur janganlah saling merendahkan. Sebab, nantinya, rakyat sendiri yang akan bingung ingin memilih siapa gara-gara beberapa partai itu sendiri suka mencari dan menganalisis kelemahan rivalnya.

Begitu pula dengan masing-masing partai, terutama partai induk, perlu melakukan introspeksi diri demi kebaikan partai dan seluruh warga Indonesia.

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2018 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2018 LampuHijau.com
All rights reserved
Tutup Iklan
glowhite