Puasa Berbahaya Bagi Pencernaan atau Tidak?

Puasa Berbahaya Bagi Pencernaan atau Tidak?

Nur AK
4 Jun 2018
Dibaca : 437x
Ahli gizi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr. Fiastuti Witjaksono SpGK menjelaskan bahwa puasa merupakan kondisi dimana tubuh tidak boleh mengonsumsi makanan atau minum.

Puasa memiliki hubungan yang erat dengan makan dan minum. Hal inilah yang memunculkan pertanyaan bagi Anda, amankah perut saya selama menjalankan ibadah puasa?

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa puasa sangat bermanfaat bagi kesehatan, terutama kesehatan perut dan sistem pencernaan Anda.

Ahli gizi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr. Fiastuti Witjaksono SpGK menjelaskan bahwa puasa merupakan kondisi dimana tubuh tidak boleh mengonsumsi makanan atau minum sama sekali selama lebih kurang 14 jam, kalau di Indonesia. Merupakan hal yang wajar jika efek puasa selalu menyebabkan Anda menjadi pusing dan lemas, sebab kandungan glikogen, glukosa, lemak dan protein menurun.

"Cadangan energi yang ada pada tubuh hanya bisa digunakan untuk sekitar 8-10 jam. Sisanya, kita harus menggunakan lemak sebagai cadangan energi," ungkapnya.

Fiastuti menyebut manusia dapat bertahan hidup selama dua minggu tanpa makan sama sekali asal tetap minum. Sementara, jika tidak minum sama sekali orang hanya hanya dapat bertahan selama seminggu.

Namun, saat berpuasa justru dapat memberikan sejumlah manfaat menyehatkan bagi saluran cerna manusia. Menurut Fiastuti, manfaat tersebut di antaranya, memberi kesempatan terhadap alat pencernaan untuk beristirahat, memperbaiki proses regenerasi sel-sel saluran cerna, mengurangi beban kerja pencernaan, memberikan efek positif terhadap metabolisme tubuh, membantu menurunkan tingkat kolesterol, risiko diabetes, dan mengurangi penyakit lambung fungsional (maag).

"Pada kondisi tidak berpuasa kita makan 3 kali plus snack berkali-kali, sehingga lambung tidak bisa istirahat. Ketika puasa, saluran cerna kita justru senang karena diberi waktu istirahat yang cukup," jelasnya.

Porsi makan yang berkurang selama berpuasa, membuat Anda harus memikirkan pola makan dan higienitas agar saluran cerna dapat terjaga dengan kuat sehingga daya tahan tubuhpun akan semakin kuat. Sebab, Fiastuti mengingatkan saluran cerna sebagai tempat masuknya segala penyakit.

Bagaimana dengan pola makan Anda selama berpuasa?

Sebenarnya, tak ada perbedaan antara orang yang berpuasa dan tidak berpuasa baik. Hanya saja jumlah, jenis, dan waktu makan pada orang yang berpuasa harus diatur untuk memenuhi kebutuhan energi dalam tubuh Anda.

Misalnya, menurut tips dari Fiastuti, pola makan saat sahur harus mencakup 40 persen makanan besar, 30 persen makanan kecil (sebelum imsak), dan jangan lupa minum 3 gelas air. Usahakan makan makanan dengan komposisi lengkap, yang terdiri dari karbohidrat, protein hewani/nabati, sayur dan susu.

Sedangkan saat berbuka, mulailah dengan mengonsumsi makanan atau minuman yang manis, tujuannya untuk menggantikan kadar gula darah yang sudah turun seperti teh manis, koktail, kurma. Setelah itu, sholatlah terlebih dahulu, kemudian makan besar dan lengkap.

Fiastuti tidak menganjurkan seseorang untuk melakukan aktivitas fisik atau olahraga setelah sahur karena dapat berisiko dehidrasi. Sebab, jangka waktu untuk makan dan minum masih cukup jauh. Sebaiknya, Anda bisa melakukan olahraga sebelum waktu buka puasa, dengan olahraga ringan seperti jalan santai atau aerobik.

Itulah usaha yang harus Anda lakukan untuk menjaga kesehatan pencernaan Anda selama berpuasa.

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2020 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2020 LampuHijau.com
All rights reserved