Saat Ini, Bisnis Klinik Kecantikan sangat Prospektif namun Banyak Tantangan

Saat Ini, Bisnis Klinik Kecantikan sangat Prospektif namun Banyak Tantangan

Nur AK
12 Jan 2018
Dibaca : 1163x
Beberapa orang yang telah nyaman dengan perawatan wajah pada klinik kecantikan menimbulkan rasa ketergantungan dan tidak ingin berpindah ke lain produk.

Berbagai klinik kecantikan sudah tersebar luas di Indonesia, saat ini. Klinik kecantikan tersebut menawarkan berbagai jasa dan kosmetik guna mempercantik estetika paras dari para wanita. Kebutuhan untuk melakukan terapi kecantikan tidak hanya pada orang dewasa tapi juga trennya bergeser kepada generasi milenial. Bahkan orang yang sudah tua pun turut mempercantik diri, seperti kebanyakan menghilangkan flek hitam.

Pada zaman modern ini, bisnis kecantikan dianggap sangat prospektif karena pasarnya yang sangat besar. Namun klinik kecantikan yang ada juga harus terpercaya dan terbukti perubahannya. Sebab, beberapa orang yang telah nyaman dengan perawatan wajah pada klinik kecantikan menimbulkan rasa ketergantungan dan tidak ingin berpindah ke lain produk.

"Tidak hanya orang berumur tapi bergeser ke milenial. Ini tren baru, terutama di kota-kota besar," tutur Deputi CEO Markplus Inc, Jacky Mussry dalam acara Aesthetic Outlook 2018 di Plaza Sentral, Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (11/1/2018).

Untuk produk kecantikan, Jacky menambahkan, ada kecenderungan orang tetap mencari dan membeli meskipun sebetulnya mereka sudah memiliki produk kecantikan tertentu. Hal itu tak hanya terjadi pada produk perawatan kecantikan, tapi juga beberapa produk lainnya seperti parfum, liburan, fashion, dan sepatu olahraga.

"Orang sudah pernah membeli (produk) itu tapi di sisi lain masih punya intensi untuk membeli lagi. Jadi bisnis ini sangat menjanjikan," imbuhnya.

Angka pertumbuhan pengguna produk kecantikan dinilai cukup tinggi, yakni mencapai 10,6 persen di Indonesia. Lebih tinggi dari rata-rata dunia, yakni 5 persen. Permintaan masyarakat untuk perawatan kecantikan juga tinggi, tak hanya bagi perempuan namun juga konsumen laki-laki.

Hal senada diungkapkan President Director Miracle Group, dr Lanny Juniarti. Tren perawatan kecantikan non-bedah terus meningkat. Setidaknya, dalam empat tahun terakhir, kenaikannya berkisar 15 persen. Hal ini dipicu pula dengan semakin berkembangnya teknologi dan keinginan masyarakat semakin tinggi dalam hal menggunggah foto atau video dirinya.

"Yang ingin update sekarang tidak hanya selebriti. Orang awam juga ingin semakin eksis, semakin diterima secara sosial sebagai bagian dari komunitasnya. Kecantikan ini sudah menjadi lifestyle," tuturnya.

Namun, yang paling ditekankan jika ingin sukses dalam berbisnis ini adalah mengenai sdvokasi produk  yang erat kaitannya dengan pengenalan masyarakat terhadap sebuah produk. Sehingga konsumen bisa menyarankan kepada orang lain untuk memakai produk tersebut walau ia sendiri tak menggunakannya.

"Menariknya, kadang dikira orang dia sudah nyoba. Tapi ternyata enggak juga. Menarik kan? Enggak punya produknya tapi mengadvokasi. Jadi dimulai dari awareness," tuturnya.

Kiat sukses lain adalah membuat diferensiasi produk untuk memenangkan pasar, yang tidak mudah ditiru oleh kompetitor. Sebab, produk yang sama bisa jadi sudah dibuat oleh banyak kompetitor lain.

Tantangan lainnya di antaranya perubahan pasar yang sangat tidak stabil, keinginan konsumen yang semakin kompleks hingga bagaimana membuat produk kita tetap bertahan.

"Kita harus menciptakan daya tarik melalui awareness dan rasa ingin tahu. Sekarang, orang makin kepo. Kita harus lebih sensitif dengan rasa ingin tahu ini," tutupnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2021 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2021 LampuHijau.com
All rights reserved