Saudi Menolak Dituding jadi Penyebab Mundurnya Perdana Menteri Lebanon

Saudi Menolak Dituding jadi Penyebab Mundurnya Perdana Menteri Lebanon

Admin
13 Nov 2017
Dibaca : 422x
Ada Hubungannya dengan Hizbullah yang memiliki parlemen di Lebanon

BEIRUT – Pemerintah Arab Saudi sepertinya sudah merencanakan dengan detail pengunduran diri Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Al Hariri. Telepon yang berdering pada Kamis malam (2/11) menjadi awal dimulainya ketegangan dua negara. Saat itu, pemerintah Saudi menghubungi Hariri dan memintanya datang karena Raja Salman ingin bertemu. Keesokannya dia langsung terbang ke Riyadh dan tak pernah kembali hingga saat ini. 

”Ketika pesawat Hariri mendarat di Riyadh, dia langsung menyadari bahwa ada yang tidak beres. Tidak ada seorang pun yang menunggunya,” ujar orang dekat Hariri yang dihubungi oleh kantor berita Reuters. Berdasar protokoler, seharusnya ada pejabat Saudi yang menyambut. Telepon miliknya juga disita. Tidak ada tim media sang PM yang mengabadikan perlakuan Saudi karena mereka tak ikut. 

Hariri meminta tim medianya langsung menuju resor di Sharm Al Sheikh, Mesir. Sebab, dia memang berencana menghadiri World Youth Forum dan bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fattah Al Sisi. Dari bandara, Hariri menuju rumah pribadinya di Riyadh. Politikus 47 tahun itu memang memiliki bisnis dan rumah pribadi di Saudi. 

Sabtu pagi (4/11) Hariri kembali ditelepon dan diminta untuk bertemu dengan Putra Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman. Dia menunggu selama empat jam tanpa kejelasan sebelum akhirnya disodori pidato pengunduran dirinya. Hariri diminta membaca dan disiarkan di televisi. ”Sejak dia tiba, pemerintah Saudi tidak menunjukkan rasa hormat kepadanya,” ujar sumber lain yang merupakan politikus senior Lebanon. 

Apa yang terjadi ditengarai gara-gara kunjungan Hariri beberapa hari sebelumnya ke Saudi. Saat itu, Pangeran Mohammad mengatur pertemuan antara Hariri dan Menteri Urusan Wilayah Teluk Saudi Thamer Al Sabhan untuk membicarakan masalah Lebanon. Pertemuan tersebut sepertinya berjalan mulus, bahkan Hariri sempat berfoto dengan Sabhan. PM ke-33 Lebanon itu tidak sadar bahwa ada pernyataannya yang tidak bisa ditoleransi oleh Saudi. 

Karena itu, dia tidak curiga saat diminta kembali datang. ”Dalam pertemuan itu, saya yakin Hariri mengungkapkan sikapnya atas Hizbullah di Lebanon. Yaitu, bahwa konfrontasi akan membuat negaranya tidak stabil. Saya rasa mereka (Saudi) tidak suka dengan apa yang didengar,” tegas sumber itu. 

Hariri berpendapat, perjanjian dengan berbagai faksi di Lebanon harus tetap dijaga agar negara tersebut tidak kembali berperang. Di Lebanon, Hizbullah bukan hanya kelompok bersenjata. Mereka juga memiliki jatah di parlemen maupun pemerintahan. 

Beberapa sumber di Lebanon menyatakan, Saudi ingin mengganti Saad Al Hariri dengan Bahaa, kakak lelakinya. Bahaa yang tidak akur dengan Hariri dan sudah lama ingin menjadi petinggi Future Movement diyakini tengah berada di Saudi. Keluarga besar Hariri diminta datang ke Riyadh untuk memberikan dukungan kepada Bahaa, tapi mereka menolak.  

Keluarga dan orang-orang yang berhasil menghubungi Hariri mengatakan, PM yang menjabat sejak Desember 2016 itu tampak cemas dan hati-hati dalam berbicara. Pernyataan yang sering keluar dari mulutnya hanya bahwa dirinya baik-baik saja dan menjawab Insya Allah ketika ditanya kapan balik ke Lebanon. 

Di lain pihak, Future Movement menegaskan, pihaknya tetap menganggap Hariri sebagai pemimpinnya. Menteri Dalam Negeri Lebanon Nohad Machnouk menampik ide bahwa posisi Hariri akan digantikan oleh Bahaa. ”Kami bukan kawanan domba atau tanah yang kepemilikannya bisa diganti dari satu orang ke orang lainnya. Di Lebanon semua harus melalui pemilu, bukan janji setia,” tegasnya.

Saudi juga berkali-kali menolak tudingan telah terlibat dalam pengunduran diri Hariri. Sabhan maupun para pejabat Saudi belum bisa dimintai komentar. Termasuk apakah benar telepon Hariri telah disita. Sejak mundur dari jabatannya, Hariri belum memberikan pernyataan sama sekali dan tidak diketahui kapan akan kembali ke Lebanon.

Sementara itu, Kerajaan Arab Saudi menegaskan bahwa Raja Salman tidak akan turun takhta dalam waktu dekat. Itu menjawab rumor yang beredar bahwa dia tengah sakit-sakitan dan segera digantikan oleh putranya, Mohammad. Isu tersebut berkembang pesat karena sepak terjang Mohammad baru-baru ini yang menangkapi lebih dari 208 pangeran, menteri, dan pebisnis dengan alasan bersih-bersih koruptor. 

Banyak pihak yang menilai itu adalah caranya memuluskan jalan menjadi raja dan menyingkirkan orang-orang yang berseberangan dengannya. ”Tidak ada kemungkinan sedikit pun bahwa raja akan turun takhta,” bunyi pernyataan tertulis Kerajaan Arab Saudi. Dinyatakan juga bahwa raja yang telah berusia 81 tahun itu masih sehat, baik secara mental maupun fisik. 

Biasanya, raja Saudi memang tidak akan turun takhta meski sakit keras. Contohnya, Raja Fahd bin Abdulaziz Al Saud yang tetap berkuasa hingga meninggal pada 2005 meski sakit parah selama beberapa tahun. Hanya satu kali ada raja yang turun takhta. Yaitu, Raja Saud bin Abdulaziz yang mundur pada 1964 agar adiknya, putra mahkota Pangeran Faisal, bisa naik takhta. Saat itu, terjadi krisis finansial dan Pangeran Faisal memiliki pengaruh besar untuk menyelesaikannya. Hampir sama dengan Pangeran Mohammad saat ini. (Reuters/AP/Bloomberg/sha/c6/any)

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2020 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2020 LampuHijau.com
All rights reserved