Setya Novanto jadi Saksi di Sidang Andi Narogong

Setya Novanto jadi Saksi di Sidang Andi Narogong

Admin
4 Nov 2017
Dibaca : 292x
Jawabannya banyak tidak tau hanya tau urusan kaos partai

LampuHijau -  Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) mengaku tidak mengenal secara dekat Andi Narogong, yang sebelumnya disebut-sebut sebagai orang kepercayaan setnov  dalam pengaturan kongkalikong kasus mega korupsi e-KTP. Setnov hanya mengaku pernah ketemu Andi Narogong ketika ia menawarkan kaos partai untuk Golkar.   

“Saya sempat bertemu (dengan Andi Narogong) sebanyak dua kali pada 2009 di Kafe Tee Box. Saya hanya bertemu di situ, dua kali saja," kata Setnov menjawab pertanyaan majelis hakim, saat menjadi saksi persidangan kasus korupsi e-KTP dengan terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, kemarin.  Setnov hadir didampingi Sekjen Partai Golkar Idrus Marham beserta kuasa hukumnya Fredrich Yunadi.

Padahal selama ini, Andi Narogong disebut-sebut sebagai operator lapangan yang mengatur proyek e-KTP atas petunjuk dari setnov.

"Ada juga yang menyebut Andi ini orangnya Anda. Dan terkait dengan e-KTP ini, ada uang yang mengalir ke Anda?" tanya ketua majelis hakim Jhon Halasan Butarbutar.

Atas pertanyaan itu, Setnov langsung membantah. "Tidak benar Yang Mulia, tidak pernah dan tidak tahu," jawab Setya Novanto.

Ia mengaku, hanya dua kali bertemu degan Andi Narogong, itu pun urusan kaos partai.  "Saya hanya dua kali bertemu dengan Andi, yaitu pada pertengahan 2009. Saat itu Andi datang ke Tbox Cafe, kebetulan saya selalu di sana. Saat itu dia memperkenalkan diri sebagai supplier kaos dan pembuatan alat lain berkaitan dengan Pilpres," ungkap Setnov.

Namun setelah negosiasi harga dan tawaran barang, akhirnya Setnov yang saat itu menjabat sebagai Bendahara Partai Golkar tidak menindaklanjuti tawaran Andi. 

Pertemuan kedua mereka juga masih terjadi di Tbox Café. Kali ini Andi menawarkan kaos dari China tapi karena kesulitan pengiriman Setnov batal menggunakan jasa Andi untuk menyediakan kaos menjelang pemilihan presiden. 

"Pada saat e-KTP, Anda disebut kunci menentukan anggaran?" tanya hakim Jhon.

"Tidak benar," jawab Setnov.

"Kita hanya konfirmasi karena ada dalam dakwaan juga ada istilah untuk urus anggaran e-KTP harus dikawal, anggarannya ada tidak?" tanya hakim Jhon.

"Saya rasa tidak ada," jawab Setnov.

"Anggota DPR bukannya sibuk kok malah nongkrong di kafe?" tanya anggota majelis hakim Ansyori Syaifuddin.

"Itu saat malam hari pak," jawab Setnov.

Hakim Jhon kemudian bertanya apakah dia melakukan pertemuan di Hotel Gran Melia bersama Irman, Sugiharto dan Diah. "Saya belum pernah datang pukul 06.00 karena pukul 06.00 juga (hotel) belum buka, tidak benar saya melakukan pertemuan di sana," jawab Setnov.

Ketika hakim menanyakan apakah Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Irman pernah datang ke rumahnya, Setnov juga menjawab "Tidak pernah".

"Saya tidak dalam posisi menuding, tapi hanya memperhadapkan terkait e-KTP ini, yang konon melibatkan Anda. apakah Anda kenal mantan Sekjen Mendagri Diah dan berpesan ke Diah agar bila Irman ditanya apakah kenal Anda atau tidak dijawab tidak kenal?" tanya hakim Jhon.

"Tidak pernah," jawab Setnov.

"Momen pertemuan Anda dengan Diah itu terjadi saat pelantikan ketua BPK?" tanya hakim Jhon.

"Tidak benar, karena ada saya memang makan bersama beberapa pejabat lain, tapi saya tidak tahu siapa saja, dan saya salaman juga tidak tahu ke siapa saja," jawab Setnov.

Padahal dalam dakwaan terhadap Andi Narogong disebutkan bahwa pada Februari 2010 di Hotel Gran Melia terjadi pertemuan antara Andi, Irman, Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Negeri Sugiharto, Sekretaris Kementerian Dalam Negeri Diah Angraeni dan Setnov.

Dalam pertemuan itu Setnov menyatakan dukungannya dalam pembahasan anggaran proyek KTP-e menurut jaksa.

Sebagai tindak lanjut, Andi mengajak Irman menemui Setnov di ruang kerja Setnov di lantai 12 gedung DPR RI dan Setnov berjanji untuk mengkoordinasikannya. 

Selanjutnya, pada September-Oktober 2011 di rumah Senov di Jalan Wijaya Kebayoran, Andi bersama Direktur Quadra Solutions Anang S Sudihardjo dan Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra Paulus Tannos bertemu Setnov dan Setnov menginstruksikan agar proyek KTP-E dilanjutkan. 

Setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya DPR menyetujui anggaran KTP-e dengan rencana besar tahun 2010 senilai Rp5,9 triliun yang proses pembahasannya akan dikawal fraksi Partai Demokrat dan Golkar dengan kompensasi Andi memberikan bayaran kepada anggota DPR termasuk Setnov.  

Irman, salah seorang terpidana korupsi e-KTP dalam persidangan Agustus 2017 lalu pernah membeberkan kedekatan Narogong dengan Setnov. Menurut Irman, peran Andi Narogong adalah memfasilitasi pertemuan dengan Setya Novanto yang saat itu menjadi pimpinan fraksi Partai Golkar di DPR. 

“Andi memfasilitasi pertemuan saya, Pak Sugiharto, Diah Anggraini (Sekjen Kemendagri) dan Setya Novanto di Grand Melia. Semuanya dipersiapkan oleh Andi,” ujar Irman di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin, 21 Agustus 2017. Kasus ini sendiri merugikan keuangan negara Rp 2,3 triliun dari proyek senilai Rp 5,9 triliun. Nama Irman, Sugiharto, Andi, dan Novanto akhirnya terseret dalam pusaran mega korupsi e-KTP.

Masih menurut Irman, awalnya ia dipanggil oleh Ketua Komisi II DPR Burhanuddin Napitupulu ketika proyek e-KTP diusulkan. Pada pertemuan itu, Irman menjelaskan perihal proyek e-KTP dan keuntungannya. Burhanuddin ketika itu setuju dan bakal mendukung proyek itu.

Nama Andi saat itu muncul sebagai pengusaha yang dinilai sudah dikenal oleh orang-orang Komisi II dan dipercaya untuk mengurus proyek itu. Selepas pertemuan itu, Irman mengaku dihubungi oleh Sekretaris Jenderal Kemendagri Diah Anggraini. Dalam sambungan telepon itu, Diah pun menyebut nama Andi yang akan berperan dalam membantu proyek.

Menurut Irman, Diah menyampaikan Andi akan menghubungi Irman untuk membahas lebih lanjut. Andi pun datang ke kantor Irman. Saat itu, Irman berkenalan dengan Andi. Ia juga memanggil Sugiharto untuk berkenalan dengan Andi. Inti dari pertemuan pertama itu adalah, Andi ingin mempertemukan Irman dan Sugiharto dengan Setya Novanto.

Menurut Andi, kata Irman, Novanto adalah orang kunci yang bisa memuluskan anggaran e-KTP dari DPR. Ia lalu meminta pertimbangan Sugiharto. Sugiharto mengiyakan rencana pertemuan itu. 

Pertemuan dengan Novanto pun terjadi. Pertemuan pertama di Grand Melia sekitar 10-15 menit. Irman dan Sugiharto datang sekitar pukul 06.05. pada pertemuan itu ada Andi, Diah, Novanto, Irman, dan Sugiharto. Inti dari pertemuan itu adalah Novanto menyatakan akan mendukung anggaran proyek e-KTP.

Sepekan setelah pertemuan itu, Andi menelepon Irman untuk mengajak menemui Setya Novanto di ruang ketua fraksi Partai Golkar di DPR. Irman bersedia dan pertemuan terjadi. “Di situ saya hanya berdua dengan Andi menghadap SN. Intinya adalah meminta ketegasan soal anggaran,” kata Irman.

Menurut Irman, Andi yang menyampaikan permintaan ketegasan soal anggaran itu kepada Setya Novanto. Sebab, dengan adanya dukungan anggaran maka Irman bisa segera menyiapkan langkah-langkah proyek e-KTP. Saat itu Novanto hanya menjawab tengah mengkoordinasikan persoalan anggaran e-KTP. Irman pun meminta pamit. Namun Setya Novanto menyampikan bahwa perkembangan soal anggaran segera diberitahu atau bisa ditanyakan ke Andi Narogong.

Dalam persidangan kemarin, banyak hal yang dibantah setnov. Selain 

Soal kedekatannya dengan Andi Narogong, ia juga membantah telah memberi  pesan untuk Ganjar Pranowo agar tidak "galak" dalam pembahasan pengadaan e-KTP di Komisi II DPR. 

"Tidak pernah Yang Mulia, ngarang itu," kata Novanto.

Soal pesan jangan "galak" dalam pembahasan e-KTP pernah diakui Ganjar dalam berita acara pemeriksaanya. Namun, saat bersaksi untuk terdakwa lain dalam kasus ini, Irman dan Sugiarto, Ganjar mencabut BAP-nya. 

Novanto juga menyatakan, ada kepentingan politik di balik masuknya nama dia sebagai salah seorang yang terlibat dalam kasus e-KTP. "Ini bentuk pencemaran nama baik saya, saya percaya ada.kepentingan politik di balik ini yang berusaha membawa nama saya dan mengatakan saya terlibat," sebutnya.  

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved