Tak Disengaja, Penelitian Menghasilkan Gen dapat Mempengaruhi Pola Diet

Tak Disengaja, Penelitian Menghasilkan Gen dapat Mempengaruhi Pola Diet

Nur AK
17 Jan 2018
Dibaca : 369x
Dalam jurnal online Genetics, meneliti sebuah temuan awal pada tikus yang diterbitkannya pada Jumat (1/12/2017).

Diet menjadi permasalahan terbesar bagi tubuh. Pasalnya, tak sedikit orang yang menganggap bahwa dietnya gagal. Namun, apakah Anda tahu bahwa DNA bisa menyukseskan atau menggagalkan diet Anda?

Dalam jurnal online Genetics, meneliti sebuah temuan awal pada tikus yang diterbitkannya pada Jumat (1/12/2017). Dalam jurnal ilmiah tersebut, memperlihatkan bagaimana jenis genetika yang berbeda merespons berbagai jenis makanan yang berbeda.

Tertulis bahwa, empat kelompok tikus dengan garis genetik berbeda dipelajari responsnya terhadap pola makan yang berbeda-beda. Pola makan ini bervariasi dari segi bahan umum, keseimbangan serat, lemak, dan protein, serta "bahan aktif" yang diambil dari beberapa makanan di wilayah tertentu yang sering disebut sebagai superfood.

Sementara itu, beberapa diet yang diuji adalah diet Jepang yang mengandung banyak pati, minyak kedelai, dan ekstrak teh hijau; diet ketogenik yang tinggi lemak dan protein seperti yang dimakan oleh orang Maasai dan Kenya; dan diet Mediterania yang kaya minyak zaitun dan ekstrak anggur merah. Ketiga diet tersebut dibandingkan dengan diet kontrol yang berisi makanan dari toko dan diet Amerika yang kaya karbohidrat olahan dan lemak.

Setiap kelompok diet menerima jumlah kalori yang sama setiap makan. Namun, selama enam bulan, kelompok genetik yang berbeda menunjukkan efek yang berbeda pada makanan yang sama.

William Barrington, penulis utama penelitian ini, mengatakan sebagian besar subyek hewan menunjukkan respons yang baik terhadap pola makan yang sehat.

Pada diet Jepang, satu dari empat jenis genetik menunjukkan peningkatan lemak di hati dan ada tanda kerusakan hati.

Pada diet Maasai yang tinggi lemak memiliki efek negatif berbeda pada dua kelompok tikus. Yakni satu menjadi sangat gemuk, dengan hati berlemak dan kolesterol tinggi, sedangkan satu lagi menjadi lesu dengan tingkat lemak tubuh yang lebih tinggi meski tetap kurus.

Lalu, hewan dalam kelompok diet ala Amerika mengalami peningkatan kadar lemak pada semua gen, dan beberapa sampai obesitas dengan tanda-tanda ‘sindrom metabolik’ di mana tekanan darah, gula, dan kolesterol memburuk. Hasilnya, diet Amerika lebih menyebabkan efek negatif di seluruh jenis gen dibandingkan dengan diet kontrol.

Namun, di dalam jurnal tersebut mengungkapkan, seperti pada manusia, tingkat keparahan efek bervariasi melintasi latar belakang genetik. Dengan kata lain, tidak ada satu diet yang paling baik dan cocok untuk semua orang.

Awalnya, Barrington menentukan tujuan penelitian ini sebenarnya adalah untuk menemukan makanan yang optimal, tetapi tim tersebut malah menemukan bahwa diet sangat bergantung pada genetika individu.

Selain itu, ia juga berteori bahwa variasi tersebut kemungkinan bergantung pada apa yang nenek moyang kita kembangkan dan makan. Barrington menyebutkan di masa depan, bisa jadi tes genetik dibutuhkan untuk membuat rencana diet yang lebih baik untuk manusia.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2020 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2020 LampuHijau.com
All rights reserved