UNICEF : Kejamnya Anak-anak Dimanfaatkan untuk Senjata Perang

UNICEF : Kejamnya Anak-anak Dimanfaatkan untuk Senjata Perang

Nur AK
28 Des 2017
Dibaca : 258x
Yang bikin menyanyat hati, beberapa anak yang diculik oleh kelompok ekstremis, disiksa lagi oleh pasukan keamanan saat mereka dibebaskan.

Anak-anak adalah korban yang paling rentan saat terjadi konflik. Berdasarkan data yang dimiliki UNICEF, sepanjang tahun 2017, anak-anak tidak sekadar menjadi korban perang, namun anak-anak yang terperangkap di zona perang digunakan sebagai senjata perang. Tidak hanya satu atau dua, tapi sangat banyak anak-anak yang digunakan untuk senjata perang.

Anak-anak malang itu direkrut untuk berperang, dipaksa bertindak sebagai pembom bunuh diri, dan digunakan sebagai perisai manusia.

2017 sebagai tahun yang brutal bagi anak-anak yang tertangkap dalam konflik, UNICEF mengatakan bahwa pihak-pihak yang terlibat konflik secara terang-terangan mengabaikan hukum humanis internasional. Mereka secara rutin menyerang anak-anak.

Mereka jadi korban pemerkosaan, perkawinan paksa, penculikan, dan perbudakan. Semua aksi kekerasan itu telah menjadi taktik baku dalam konflik di Iraq, Syria, Yaman, serta di Nigeria, Sudan Selatan, dan Myanmar.

Yang bikin menyanyat hati, beberapa anak yang diculik oleh kelompok ekstremis, disiksa lagi oleh pasukan keamanan saat mereka dibebaskan. Yang lainnya, secara tidak langsung terluka karena berkelahi, kekurangan gizi, dan sakit karena akses terhadap makanan, air, serta sanitasi tidak ada atau dibatasi.

Dan ada sekitar 27 juta anak di zona konflik dipaksa keluar sekolah.

”Anak-anak menjadi sasaran dan terkena serangan dan kekerasan brutal di rumah, sekolah dan tempat bermain mereka,” ujar Manuel Fontaine, direktur program darurat Unicef.

Sebagian besar pertempuran yang mempengaruhi anak-anak terjadi dalam konflik yang telah berlangsung lama di Afrika.

Berikut beberapa diantaranya:

  • Boko Haram, organisasi militan militan yang aktif di Nigeria, Chad, Niger dan Kamerun, memaksa setidaknya 135 anak-anak untuk bertindak sebagai pelaku bom bunuh diri. Itu hampir lima kali jumlahnya pada 2016.
  • Anak-anak diperkosa, dibunuh dan direkrut secara paksa di Republik Afrika Tengah setelah terjadi lonjakan konflik sektarian sejak terjadi kudeta pada tahun 2013.
  • Kekerasan politik dan militan telah memaksa lebih dari 850.000 anak-anak pergi dari rumah mereka di Republik Demokratik Kongo. Sementara lebih dari 200 pusat kesehatan dan 400 sekolah telah diserang dengan sengaja.
  • Di Somalia, hampir 1.800 anak direkrut untuk berperang dalam 10 bulan pertama tahun 2017.
  • Di Sudan Selatan, lebih dari 19.000 anak telah direkrut menjadi anggota kelompok bersenjata sejak 2013.
  • Di Yaman, dalam tiga tahun pertempuran telah menyebabkan setidaknya 5.000 anak meninggal atau terluka dan 1,8 juta menderita kekurangan gizi.
  • Anak-anak juga terkena dampak konflik di Timur Tengah dan di Asia tengah dan selatan-timur. Di Iraq dan Syria, anak-anak dilaporkan telah digunakan sebagai perisai manusia, terjebak dalam pengepungan dan ditargetkan oleh penembak jitu.
  • Di Afghanistan hampir 700 anak-anak terbunuh dalam pertempuran dalam sembilan bulan pertama tahun ini.
  • Anak-anak Rohingya di Myanmar juga mengalami kekerasan sistematis dan diusir dari rumah mereka. Lebih dari separuh 650.000 orang Rohingya yang dipaksa melewati perbatasan ke Bangladesh berusia di bawah 18 tahun.

Apa yang dilakukan UNICEF?

UNICEF telah meminta semua pihak dalam konflik untuk menghormati hukum humaniter internasional dan segera mengakhiri pelanggaran terhadap anak-anak dan sasaran infrastruktur sipil, termasuk sekolah dan rumah sakit. Badan ini juga meminta negara-negara yang memiliki pengaruh terhadap partai-partai non-negara untuk berkonflik menggunakan pengaruhnya untuk melindungi anak-anak.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved