Polsek Kawasan Laut Gilimanuk Berhasil Gagalkan Penyelundupan Ular Sanca Hijau

Polsek Kawasan Laut Gilimanuk Berhasil Gagalkan Penyelundupan Ular Sanca Hijau

Nur AK
5 Mei 2018
Dibaca : 365x
Penyelidikan satwa langka itu bermula saat digelarnya pemeriksaan rutin terhadap orang, barang dan kendaraan yang masuk ke Bali.

Penyelundupan satwa langka ular sanca hijau berhasil digagalkan oleh satuan Polsek Kawasan Laut Gilimanuk, pada Jumat (4/5/2018) pagi.

Penyelidikan satwa langka itu bermula saat digelarnya pemeriksaan rutin terhadap orang, barang dan kendaraan yang masuk ke Bali. Pemeriksaan dilakukan oleh petugas jaga pos 2 atau pintu masuk Bali, pelabuhan Gilimanuk.

Saat pemeriksaan masih berjalan, bus AKAP Safari Darma Raya dengan nopol AA 1515 GE yang dikemudikan oleh Mulyono (41) melintas. Dari bus AKAP itulah petugas jaga memeriksa isi dari barang yang dibawa oleh penumpang bus.

Penyelidik yang dipimpin oleh Kanit Reskrim Polsek Kawasan Laut Gilimanuk AKP I Komang Muliyadi ini menemukan kardus berwarna coklat yang diduga ada barang mencurigakan di dalamnya. Setelah dibuka, kardus tersebut rupanya berisi kantong kain berwarna putih yang berisikan satu ekor ular sanca hijau.

Petugas langsung mengamankan kardus tersebut, beserta bus dan pengemudi yang merupakan warga asal Jubug Wanu Tengah, Parakan RT 04, RW 02 Temanggung ke Mapolsek Kawasan Laut Gilimanuk untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut informasi dari Kapolsek Kawasan Laut Gilimanuk Kompol I Nyoman Subawa, Polsek Kawasan Laut Gilimanuk akan berkoordinasi dengan Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) untuk memastikan jenis ular tersebut.

Dari hasil koordinasi kedua pihak, terungkap bahwa ular yang dibawa termasuk jenis Sanca Hijau (Morelia Viridis) yang merupakan satwa langka yang dilindungi dari Jawa.

Dari keterangan dari Mulyono, ular sanca hijau tersebut rencananya diangkut dari Yogyakarta ke Mataram, NTT. Berdasarkan pengakuannya, ia tak tahu pemilik dari paket kardus yang berisi ular sanca hijau tersebut.

Terkait kasus ini, Kompol I Nyoman Subawa menegaskan bahwa pengiriman telah melanggar pasal 21 ayat 2 huruf (a) Undang-undang RI, nomor 5, tahun 1990, tentang Konservasi sumber daya alam. Dengan ancaman hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved