Cintailah yang Bisa Membalas Cintamu...

Cintailah yang Bisa Membalas Cintamu...

dika mustika
12 Apr 2018
Dibaca : 371x
Keluarga adalah dari mana cinta berasal dan cintamu akan berbalas. Keluarga terus mencintaimu kini juga nanti.

Pagi tadi aku mendengar sebuah kisah yang membuat haru, merinding, dan juga berpikir. Dikisahkan ada seorang ayah yang sedang kelelahan. Ia baru saja pulang dari kantor. Ia pulang pun masih membawa pekerjaan yang harus diselesaikan. Saat itu, ketika ia baru saja tiba di rumah, ia mendapat telepon. Ternyata, telepon itu adalah telepon yang sangat penting karena berkaitan dengan pekerjaannya. Pada saat yang sama, sang anak yang memang sudah menantikan ayahnya pulang, langsung menyerbu ayahnya dan naik ke punggung sang ayah. Telepon sang ayah hampir saja terjatuh, dengan suara keras sang ayah lalu memarahi anaknya. Anak yang sedang rindu bermain dengan ayahnya. Anak yang menantikan ayah pulang sejak sore hari. Ayah yang ingin diajaknya bermain, ayah yang ingin ditunjukkannya hasil gambar yang ia sudah buat tadi di sekolah.

 

Sang ayah kemudian terlelap. Dia kaget, entah bagaimana dia didatangi oleh malaikat pencabut nyawa. Dia diperlihatkan keadaan setelah ia meninggal. Ia melihat istri dan anaknya sangat terpukul atas kepergiannya. Anak yang terakhir disentaknya, kini menangis mencarinya. Ia sungguh merasa menyesal, karena kenangan yang ia punya dengan anaknya adalah ia menyentak anak putrinya. Ia sangat sedih melihat istrinya yang tek henti menangisinya. Pada saat itu, ia juga melihat teman-teman kantornya menangisinya. ia juga diperlihatkan keadaan 40 hari setelah ia meninggal, istri dan anaknya masih berduka. Sang istri terlihat sungguh muram. Sedangkan sang anak, ia masih menanyakan ke mana ia pergi. Ia juga kemudian melihat teman-teman kantornya yang sudah mulai bisa bercanda lagi sepeninggalannya. Bahkan terlihat sudah ada orang lain yang menggantikan posisi pentingnya di kantor. Kantor berjalan dengan normal tanpa adanya ia, sedangkan keluarganya ... terlihat masih terus saja berduka sepeninggalannya, bahkan anak yang dalam akhir pertemuan dengan dirinya, ia sentak, masih menantikan ayahnya pulang.

 

Sang ayah kemudian terhentak. Ternyata gambaran itu baru datang dalam mimpinya saja. Ia tak ingin ini menjadi nyata, ia sangat menyesal...menyesal dengan pilihan prioritasnya di masa lalu. Ia menyesal seakan menjadikan urusan kantor adalah super penting dibandingkan dengan keluarga. Padahal ia lihat sepeninggalannya, justru kehidupan kantorlah yang paling tidak terpengaruh. Sedangkan keluarga yang kadang seakan mendapatkan sisa tenaganya karena terkuras oleh urusan kantor, justru yang paling menunjukkan ‘cinta’ sepeninggalannya.

 

Yuk, kita lebih bijak dalam membagi waktu juga prioritas. Pilihlah prioritas pada hal yang memberimu ‘cinta’ yang sesungguhnya! Tak perlu menunggu hingga  waktumu terhenti.    

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved