Tutup Iklan
belireview
  
Konflik Rohingnya Tak Kunjung Padam, Beberapa Gelar Perdamaian Aung Sun Su Kyi Dicabut

Konflik Rohingnya Tak Kunjung Padam, Beberapa Gelar Perdamaian Aung Sun Su Kyi Dicabut

Nur AK
13 Maret 2018
Dibaca : 80x
Sejak akhir Agustus tahun lalu hingga sekarang, tindak kekerasan di negara bagian Rakhine tersebut belum juga usai.

Konflik Rohingnya yang tak kunjung selesai, membuat Aung San Suu Kyi, State Counsellor Myanmar harus kehilangan beberapa gelar yang pernah disandangnya.

Sejak akhir Agustus tahun lalu hingga sekarang, tindak kekerasan di negara bagian Rakhine tersebut belum juga usai. Sikapnya yang tetap diam, tenang dan tak banyak komentar membuat beberapa negara harus turun tangan untuk memberikan hak hidup pada kaum Rohingnya. Tak hanya itu saja, beberapa rencana pemulangan pengungsi Rohingya dari kamp Cox's Bazar ke Myanmar selalu terancam gagal.

Beberapa pemimpin negara un telah berkunjung ke tempat pengungsian Rohingnya. Bahkan memberikan bantuan kepada Rohingnya untuk kembali ke daerah asalnya di negara bagian di Myanmar. Namun, Aung San Suu Kyi tak mengindahkan keinginan beberapa pemimpin negara tersebut.

Suu Kyi dinilai hanya sedikit melakukan tindakan untuk menyelesaikan konflik Rohingya dengan militer Myanmar. Namun tindakannya malahan tak menghasilkan apapun. Justru kamp pengungsian semakin dipadati Etnis Rohingya, lantaran mereka takut jika kembali ke Myanmar.

Hal ini membuat beberapa gelar perdamaian yang disandang pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi terpaksa dicopot karena tidak sesuai dengan usahanya untuk mendamaikan Rohingnya dengan Myanmar.

Beberapa gelar itu di antaranya:

  1. Dewan Kota Oxford mencabut gelar kehormatan tertinggi Aung San Suu Kyi (28/11/2017), karena dinilai tak layak menjadi penerima penghargaan pejuang kemanusiaan.
  2. Dewan Kota Newcastle di Inggris mencopot gelar perdamaian Suu Kyi (10/2/2018). Mereka menilai Pemimpin Myanmar itu tak pantas menyandang anugerah sebagai Tokoh Perdamaian.
  3. Museum Memorial Holocaust Amerika melucuti gelar perdamaian Suu Kyi (8/3/2018). Mereka menganggap Suu Kyi tidak berusaha menghentikan atau mengakui pembersihan warga Rohingya di Myanmar. Bahkan, Liga Nasional Untuk Demokrasi menolak bekerja sama dengan PBB, mendorong pidato bernada kebencian terhadap Muslim-Rohingya, dan secara aktif mencegah wartawan mengungkap apa yang terjadi di negara bagian Rakhine.
  4. Musikus Irlandia penggagas konser Live Aid yang legendaris, Bob Geldof kembalikan penghargaan Freedom of the City of Dublin sebagai protes atas pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi, yang juga dianugerahi penghargaan tersebut, dan dianggap keterkaitan Suu Kyi dengan kota Irlandia dianggap hal yang memalukan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2018 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2018 LampuHijau.com
All rights reserved
Tutup Iklan
belireview