Menkominfo: Indonesia Tak Mungkin Terlibat dalam Mishandling Data Facebook

Menkominfo: Indonesia Tak Mungkin Terlibat dalam Mishandling Data Facebook

Nur AK
21 Maret 2018
Dibaca : 393x
Rudi menampik bahwa facebook tidak mungkin membocorkan data pengguna yang dimiliki oleh orang Indonesia, tak mungkin dimanfaatkan untuk kepentingan politik, apalagi kepentingan politik di AS.

Tak hanya negara AS, Inggris dan Eropa saja, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengumumkan bahwa hari ini (Rabu, 21/3) pihaknya akan segera menggalang koordinasi dengan Facebook terkait penyalahgunaan data penggunanya, khususnya di Indonesia sendiri.

Namun, Rudi menampik bahwa facebook tidak mungkin membocorkan data pengguna yang dimiliki oleh orang Indonesia, tak mungkin dimanfaatkan untuk kepentingan politik, apalagi kepentingan politik di AS.

Rudi mengungkapkan bahwa hal ini adalah mishandling data, yang berarti pengelolaan data tidak sesuai dengan caranya.

Logikanya, menurut Rudi, mishandling data tersebut dipakai untuk pemilu AS hingga terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, tentunya hal itu ga mungkin sampai di negara Indonesia. Karena orang Indonesia tidak melakukan vote di luar negeri.

Pria yang akrab disapa Chief RA ini juga berpikir, kalau di Indonesia tidak bakalan dilakukan sistem yang seperti ini. Karena ya secara, Indonesia menggunakan sistem pemilihan langsung hadir untuk mencoblos.

Isu tersebut berawal data 50 juta pengguna Facebook yang bocor, lalu disalahgunakan untuk kepentingan politik Amerika Serikat yakni untuk pengkatrolan suara kampanye pemilihan suara Donald Trump pada pemilihan presiden AS 2016.

Perusahaan analisis data, Cambridge Analytica (CA), dilaporkan terlibat dalam skandal besar kebocoran data puluhan juta pengguna Facebook tersebut. Lantaran CA pernah bekerja dengan tim kampanye Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. CA termasuk perusahaan milik miliarder Robert Mercer dan saat itu dimpimpin oleh penasihat utama Trump, Steve Bannon. Ya wajar saja, CA dituding memiliki keterlibatan.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Facebook, Mark Zuckerberg tengah mengatasi tekanan dari politisi AS dan Eropa guna memberikan penjelasan bagaimana sebuah konsultan yang bekerja pada kampanye pemilihan Presiden Donald Trump mendapatkan akses data ilegal ke 50 juta pengguna Facebook. Akibat hal ini, saham Facebook ditutup dan merosot hampir 7 % pada Senin (waktu AS).

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2020 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2020 LampuHijau.com
All rights reserved