Tutup Iklan
obat kolesterol
  
Guru di Afganistan Diancam karena Menamai Anaknya Donald Trump

Guru di Afganistan Diancam karena Menamai Anaknya Donald Trump

Nur AK
22 Maret 2018
Dibaca : 140x
Di hati kecilnya, Sayed merasa khawatir dengan nama anak yang suatu saat dapat mengancam keselamatan sang putranya itu.

Nama adalah doa. Itulah pepatah yang diungkapkan beberapa orang ketika menamai seorang bayi yang baru lahir. Hal ini sempat dialami seorang guru biasa usia 28 tahun asal Afghanistan, Sayed Asadullah Poya. Sayed dikenal sebagai pria yang tak pernah neko-neko. Namun, ketika putranya ia beri nama Donald Trump. Hidupnya menjadi banyak caci dan maki, lantaran kalau memanggil Trump kecil, yang terlintas di pikiran orang adalah presiden Amerika Serikat saat ini.

Sayed memang sengaja menamai anaknya Donald Trump karena salut dengan sikap ambisius dan keahlian presiden AS dalam berbisnis. Harapannya supaya anak laki-lakinya bisa seperti Trump yang sukses dalam berbisnis. Tak hanya itu, nama Trump juga terlintas di benak Sayed karena melihat sang anak yang lahir pada bulan Agustus 2016 memiliki rambut sedikit pirang. Dari sana terlintas di benaknya untuk menamai sang anak Donald Trump. Sebuah keputusan yang lantas membawa banyak masalah untuknya dan keluarga.

Jamila, istri Sayed setuju-setuju saja dengan penamaan itu.

Saat itu, Sayed sempat menamatkan terjemahan buku karangan Trump yang berjudul Trump: How to Get Rich. Dari situlah Sayed merasa termotivasi untuk menamai putranya seperti pengarang buku itu. Sayed mengaku, sangat menyukai kepribadiannya. Sayed menyukai dengan caranya memutuskan bahwa dia menginginkan sesuatu dan bertindak untuk mewujudkannya. Sayed pun berpikir, suatu saat anaknya benar-benar unggul dalam ekonomi dan hebat dalam politik.

Pihak keluarga yang sangat marah besar adalah Ayah Sayed. Bagaimana tidak? sosok Donald Trump yang dikenal sangat kontroversial di negaranya, memiliki sejarah buruk dengan sang presiden AS. Oleh sebab itu, nama Trump selalu mengundang amarah banyak orang yag ada di sekitarnya.

Ayah Sayed mengatakan kalau nama cucunya itu tidak islami. Bahkan Sayed juga mendapati banyak wejangan dari imam di daerah tempat tinggalnya. Tanpa sedikit pun memandang sisi baiknya, nama itu dinilai sebagai hinaan terhadap kepercayaan yang mereka anut.

Mendapati sang ayah yang selalu naik darah ketika memanggil putranya. Sayed menjadi tak tahan, dan memutuskan untuk berpindah bersama dengan anak dan istrinya ke Kabul. Sebelumnya ia tinggal bersama keluarganya di Provinsi Daykundi, Afghanistan tengah.

Di Kabul, bukannya semakin membaik, warga sekitar tempat tinggalnya protes kepada pemilik kontrakan untuk mengusir keluarga Sayed karena memberi anak mereka nama 'kafir'. Begitu juga di dunia maya, Sayed tak lepas dari teror, ancaman hingga kritik pedas.

Ada yang mengancam sudah mengirim orang untuk membunuh keluarga Sayed karena 'dosa-dosa' mereka.

Apa pula yang menuduh Sayed mencoba mencari muka agar bisa diberi kehidupan oleh Amerika Serikat. Namun sayed membantah keras atas tuduhan tersebut.

Di hati kecilnya, Sayed merasa khawatir dengan nama anak yang suatu saat dapat mengancam keselamatan sang putranya itu. Namun Sayed bertekad mempertahankan nama itu. Sayed hanya berniat menamai anaknya Donald Trump semata-mata karena ingin kesuksesan sang jutawan dan politisi menular kepada anaknya.

Mungkin sudah takdirnya begitu. Saat ini, Donald Trump memang masih menginjak usia balita. Kini usianya masih setahun lebih, dan ia masih asyik-asyiknya menikmati masa kecilnya. Semoga Trump besar bisa hidup damai dan sukses berkarir dalam dunia bisnis dan politik.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved
Tutup Iklan
glowhite