Tutup Iklan
hijab
  
Keadilan Ekonomi : Cita-cita Lama yang Makin Sirna

Keadilan Ekonomi : Cita-cita Lama yang Makin Sirna

Shalahudin Ahmad
5 Apr 2018
Dibaca : 199x
Penguasaan Struktur Ekonomi oleh Konglomerat Membuat Cita-cita Keadilan Ekonomi Semakin Jauh dari Harapan

Pak Amat (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pedagang kecil yg punya kios jahitan di salah satu sudut Jakarta dengan jumlah pemukiman padat. Tetangganya di wilayah yang dihuni puluhan ribu orang per kilometer persegi juga berprofesi beragam, seperti tukang ojek, tukang parkir, warung makan, pedagang kelontong, tukang parkir dll.

Ketika ojek online mulai beroperasi Pak Amat senang dan merasa sangat beruntung. Dengan bermodal smartphone yang dibeli second dia merasa bisa menghemat banyak biaya transportasi yang biasa dikeluarkannya. Biasanya sepulang dari berbelanja bahan dia harus keluar 20 ribu dari halte bus untuk masuk kedalam gang rumah yg merangkap kiosnya. Sekarang dengan menggunakan ojek online dia cukup mengeluarkan 6 ribu, alias kurang dari sepertiga biaya sebelumnya. Terkadang juga dia memilih menggunakan ojek online untuk ke distributor bahan dan biaya transportasi yg dikeluarkan jauh lebih hemat dengan menggunakan ojek online.

Ketika itu tetangga-tetangganya yang berprofesi tukang ojek pangkalan rame-rame hijrah menjadi ojek online. Dengan menjadi tukang ojek online mereka tak perlu duduk menunggu di pangkalan ojek, bahkan bisa sambal ngopi dirumah bisa dapatkan order.  Yang penting siaga ketika ada notifikasi masuk dan secepatnya menuju lokasi penjemputan.  Bahkan Pak Herman yang juragan bajaj dan punya sekitar 10 armada bajaj melego murah semua bajajnya untuk diganti motor dan disewakan sebagai ojek online lengkap dengan 1 smartphone murah per motor untuk menangkap order.  Yang tersisa tinggal pengendara ojek pangkalan yang merasa tak sanggup mengoperasikan smartphone dan pasrah tetap jadi ojek pangkalan. Konon seorang pengendara gojek dimasa awal itu mencapai 8 juta rupiah per bulan.

Dengan perjalanan waktu, situasi berubah. Lama kelamaan pendapatan tukang ojek online mengalami penurunan. Jika awal bergabung di masa awal ojek online bisa mendapat 8 juta per bulan sekarang untuk dapat 4 juta sebulan sudah harus banting tulang sampai napas habis. Persaingan makin besar dan perang harga tak bisa dihindari.

Dampaknya adalah daya beli tetangga Pak Amat makin turun. Menjelang puasa lalu disaat puncak order biasanya terjadi, kali ini orderan sepi. Bahkan semua pesanan sudah tuntas diserahkan 2 minggu sebelum lebaran, berbeda dengan sebelumnya yang baru tuntas 1-2 hari menjelang lebaran.  Mbok Yati tetangganya yang punya kios sayur juga mengeluhkan turunnya pendapatan warung sayurnya. Untuk mensiasati daya beli yang makin turun Mbok Yati memotong tempenya lebih tipis agar bisa dijual lebih murah. Sayuran seikat juga semakin ringan dan Mbok Yati memilih menjual tomat yg ukurannya lebih kecil.

Fenomena ojek online, Hypermart, Alfa Mart, Indo Maret adalah bagian dari bahaya konglomerasi ekonomi yang beberapa puluh tahun lalu pernah disuarakan ke publik dan kemudian tenggelam tanpa ada usaha mengantisipasinya. Penguasaan struktur ekonomi oleh konglomerat akan membuat cita-cita keadilan ekonomi semakin jauh dari harapan. Arus kapital dalam struktur seperti ini akan mengalir dan hanya menumpuk di segelintir orang. Pemerintah dengan berbagai instrument kekuasaan yang dimiliki bisa dengan mudah melihat bahwa telah terjadi aliran kapital yang tak seimbang. Tabungan masyarakat menengah dan bawah semakin kecil dan modal yang dipegang oleh segelintir orang semakin menggelembung.

 

Konsumen hanya bisa melihat dalam skala transaksional tanpa bisa melihat dalam perspektif yang lebih jauh secara makro ekonomi. Konsumen mana yang tak ingin dapatkan biaya transportasi lebih murah, sayuran yg dikemas lebih baik di hypermart, atau convenience store yg bertebaran dibanding harus belanja di warung tetangga yang becek.

Pemilik warung yang perlahan mati digempur convenience store dan supermarket, anak-anaknya sekarang sudah berprofesi jadi karyawan hypermart. Kelas entrepreneur yang ada berubah menjadi kelas karyawan yang digaji.

Disini negara harus berperan sebagai regulator dan hadir untuk memberikan keadilan ekonomi kepada masyarakatnya. Orang tidak dilarang untuk menjadi kaya, tapi dilarang untuk menguasai semuanya sendirian. Orang tidak perlu dilarang berusaha tapi pengusaha kecil harus didukung agar bisa bersaing secara sehat dengan raksasa ekonomi yang punya segalanya baik dalam permodalan, sumber produksi, dan distribusi.  Ketahanan ekonomi nasional akan lebih kuat kalau struktur penguasaan ekonomi lebih tersebar. Satu konglomerasi tumbang karena transaksi bitcoin dan derivative bisa berakibat pada puluhan ribu pekerja sedangkan satu entrepreneur menengah tumbang hanya akan berakibat pada puluhan atau ratusan orang yang terkena dampaknya.

Konglomerasi lokal yang terjadi suatu saat juga bisa dimangsa oleh konglomerasi global yang lebih dahsyat karena menguasai rantai produksi konsumsi dari A sampai Z. Jika itu terjadi maka era penjajahan kembali terjadi di negeri ini, yang bahkan lebih sadis dari era ketika VOC menjadi pemonopoli perdagangan di Hindia Belanda.

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved
Tutup Iklan
JusKulitManggis