Faktor yang Menyebabkan Harga Telur Berada di Kisaran Rp 21.000 - Rp 23.000 per Kg

Faktor yang Menyebabkan Harga Telur Berada di Kisaran Rp 21.000 - Rp 23.000 per Kg

Nur AK
17 Jul 2018
Dibaca : 280x
Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementerian Pertanian (Kementan), Fini Murfiani berkomentar soal penyebab meroketnya harga telur yang akhir-akhir ini terus menanjak.

Tingginya permintaan telur dalam beberapa pekan terakhir ini memang tidak diprediksi sebelumnya. Banyak masyarakat sebagai pembeli mengaku protes dengan harga telur yang tinggi, terutama di pasar.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementerian Pertanian (Kementan), Fini Murfiani berkomentar soal penyebab meroketnya harga telur yang akhir-akhir ini terus menanjak. Salah satu penyebabnya karena terjadi penurunan produksi akibat penyakit dan libur lebaran. Hal itulah yang membuat pasokan telur ke pasar berkurang.

Fini menuturkan penyebab lainnya karena tingginya permintaan yang dipicu oleh gelaran Piala Dunia 2018. Saat ini, produksi telur yang langka juga diikuti dengan permintaan pembeli yang cukup tinggi yang meningkat 20 persen-30 persen dari kondisi normal.

"Seperti yang dikatakan Pak Menteri (Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita) bahwa ada kenaikan demand karena libur panjang. Kita tidak siap dengan libur panjang. Lalu dengan bebagai event panjang kaya bola segala macem meningkatkan konsumsi makanan. Adanya pertandingan Piala Dunia ternyata memengaruhi. Saya pikir iya juga," jelasnya.

Faktor lainnya lagi yakni adanya bantuan sosial untuk masyarakat miskin. Sebab, telur menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam daftar bantuan tersebut.

"Juga karena adanya bantuan dalam bentuk telur. Menteri sosial ada bantuan nontunai ke masyarakat miskin yang di Jakarta yang harganya disubsidi. Ada pembagian telur untuk rumah tangga miskin. itu pun menambah volume," tutupnya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional, Feri melaporkan hal yang sama yakni produksi telur secara nasional mencapai 6.800 ton per hari. Namun saat ini produksi telur tengah mengalami penurunan sekitar 20 persen.

"Sekarang turun 20 persen, 5 persen - 10 persen karena penyakit, selebihnya karena afkir yang normal jelang Lebaran. Itu kita potong karena karakteristik ayam petelur yang dagingnya keras dan dicari untuk opor, pasti carinya ayam petelur atau ayam kampung. Jadi setiap tahun jelang Lebaran pasti kita afkir," paparnya di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Senin (16/7/2018).

Untuk diketahui, harga telur ayam di tingkat peternak berada di kisaran Rp 21.000 - Rp 23.000 per Kg. Kendati demikian, sebenarnya saat ini harga telur di tingkat produsen sudah relatif turun. Tetapi, terkait penurunan harga di tingkat pedagang dinilai masih membutuhkan waktu yang relatif lama.

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2019 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2019 LampuHijau.com
All rights reserved