Penemuan Antibiotik dalam Tanah Berikan Harapan Baru Bagi Medis

Penemuan Antibiotik dalam Tanah Berikan Harapan Baru Bagi Medis

Nur AK
22 Feb 2018
Dibaca : 449x
Rupanya, anggapan kita selama ini tentang tanah yang kotor dan banyak kuman, justru memberikan harapan baru bagi dunia medis untuk memerangi penyakit resisten.

Penelitian yang dipublikasikan di Nature Microbiology, mengungkapkan tentang penemuan antibiotik baru yang terkandung di dalam tanah. Penelitian tersebut dilakukan oleh peneliti New York's Rockefeller University, yang baru-baru ini menemukan senyawa alami yang ada di tanah yang disebut dengan malacidin. Pihaknya melakukan analisis lebih dari 1000 sampel tanah yang diambil dari seluruh Amerika Serikat.

Rupanya, anggapan kita selama ini tentang tanah yang kotor dan banyak kuman, justru memberikan harapan baru bagi dunia medis untuk memerangi penyakit resisten.

Dikatakan dalam jurnal tersebut, senyawa malcidin mampu memusnahkan beberapa penyakit bakteri yang telah menjadi resisten terhadap kebanyakan antiobiotik yang ada. Salah satunya adalah penyakit Methicilin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA).

MRSA adalah jenis penyakit yang ditimbulkan oleh tipe bakteri Staphylococcus yang kebal terhadap antibiotik. Bakteri ini menginfeksi orang atau anak-anak yang memilki daya tahan tubuh lemah. Bersifat mematikan dan bisa mengakibatkan pada kematian penderitanya. Tak heran penyakit MRSA merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global. Tercatat setiap tahun mereka membunuh sekitar 700.000 orang.

Metode penelitian menggunakan teknik pengurutan gen. Ketika mereka menemukan malacidin di banyak sampel, mereka memiliki firasat bahwa ini adalah temuan yang penting. Setelah didapatkan senyawa itu. Peneliti berlanjut dengan menguji senyawa tersebut pada tikus yang sudah terpapar penyakit MRSA.

Alhasil, infeksi pada kulit tikus yang terluka menjadi menghilang.

Saat ini, peneliti masih berusaha meningkatkan efektivitasnya, dan berharap segera bisa dikembangkan menjadi pengobatan nyata bagi orang-orang.

Dr Sean Brady, peneliti yang terlibat dalam studi ini, menegaskan semua itu butuh waktu yang tidak sebentar hingga antibiotik ini bisa segera digunakan. Ungkapan Sean itu ternyata didukung oleh pernyataan Prof Colin Garner dari Antibiotic Research Inggris.

Garner menjelaskan hal itu tidak bisa menyelesaikan kebutuhan pengobatan yang mendesak. Karena selain MRSA, masih ada penyakit lain yang disebabkan oleh kelompok bakteri gram negatif yang sulit diobati dan ada kekhawatiran jika resistensinya semakin meningkat.

Menurutnya, bakteri ini menyebabkan pneumonia, infeksi darah dan saluran kemih karena infeksi luka yang harus dibasmi dengan antibiotik karena terus-menerus mengintai kesehatan global.

Tanah memang penuh dengan jutaan mikroorganisme yang memiliki ciri-ciri yang berbeda. Dari jutaan mikroorganisme tersebut bisa jadi ada salah satu mikroorganisme yang menghasilkan banyak senyawa terapeutik, termasuk antibiotik baru.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2020 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2020 LampuHijau.com
All rights reserved