Tutup Iklan
ObatKolesterol
  
Pengakuan Balita GW saat di Tanya Ibu Guru, Waktu Masih Hidupnya

Pengakuan Balita GW saat di Tanya Ibu Guru, Waktu Masih Hidupnya

Bang RM
14 Nov 2017
Dibaca : 188x
setaip hari selalu ada perubahan dari diri GW, yang biasa periang jadi pendiam dan banyak luka di tubuhnya

Lampuhiju.com - GW balita yang meninggal karena ibu kandungnya sendiri, telah menjadi gempar semua masyarakat. Karena tekanan keadaan membuat sang ibu menyiksa anak kandungnya yang masih balita dan berbuntut meninggalnya balita tersebut.

Sang ibu Novi Wanti (26), ibu yang menganiaya anaknya sendiri GW (5) hingga tewas, kerap dipanggil oleh pihak sekolah di mana GW bersekolah.

Pihak sekolah seringkali menemukan kejanggalan di tubuh GW saat masuk sekolah.

Luka cakaran, hingga luka lebam yang diderita GW saat itu, membuat pihak sekolah GW di wilayah Jakarta Barat ini, seringkali memanggil sang ibu.

Melihat luka-luka yang diderita GW, membuat sejumlah guru di sekolah bertanya-tanya, dan GW sering menjawab "luka jatuh".

"Guru suruh buka baju, ternyata penuh cakar. Setiap ditanya kenapa, pasti alasannya jatuh terus yang terakhir itu ditutupin lukanya pakai baju lengan panjang," ujarnya.

"Jadi, guru-guru di sekolah ini miris sekali mas melihat GW ya. Karena guru-guru sekolah yang di sini seringkali melihat GW ini kesakitan. Ada guru lihat punggung GW dipenuhi luka cakaran dan lebam-lebam. Wajahnya anak ini bengkak-bengkak, benjolan di kepala. Lukanya banyak," kata Merry selaku kepala sekolah yang enggan sebutkan nama sekolah dan yayasannya, pada Senin (13/11/2017).

Selain luka-luka yang diderita, prilaku GW lama kelamaan berubah.

Pasalnya, bocah laki-laki di sekolah setiap hari periang sebelum tragedi penganiayaan dialaminya.

"Pernah dianya (GW) itu tidak masuk selama seminggu dengan alasan pergi ke Bangka ya Kepulauan Riau. Itu ibunya juga yang bilang. Tetapi ketika ditanya mengenai kondisi sang anaknya, sering menghindar. Dulu anaknya itu ceria, periang, semenjak kami temukan luka-luka ditubuhnya di saat itulah anak tersebut ya seringkali murung dan takut pulang," katanya.

Yang menjadi pertanyaan para orang tua dan semua orang kenapa setelah anak didik sudah meninggal baru para guru buka mulut. Kenapa anak nggak masuk sakit tidak dilihat dirumah atau tahu seperti itu ada tindak lanjut dari para pendidik? Adaapakh dengan mereka kurang peka atau takut?

Walapun memang kematihan seseorang ada ditangan Tuhan bagaimanapun caranya tapi penyiksaan itu mungkin sedikit berkurang buat sang balita dan mungkin tidak ada penyesalan yang mendalam karena kita sudah berusaha.

Apapun itu semua tetap kembali pada Tuhan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Copyright © 2018 LampuHijau.com - All rights reserved
Copyright © 2018 LampuHijau.com
All rights reserved
Tutup Iklan
jus kulit manggis